Dengan penghasilan sebesar itu, kebutuhan hidup sehari-hari sulit ditopang hanya dari pekerjaan sebagai guru. Sejumlah guru terpaksa mencari penghasilan tambahan di luar jam sekolah.
"Ada tiga guru yang bertani sayur di kebun orangtua murid, mereka punya tanggungan keluarga termasuk biaya anak sekolah," bebernya.
Yohanes sendiri baru merasakan sedikit perubahan setelah memperoleh tunjangan profesi sebesar Rp2 juta per bulan. Sebelumnya, ia hanya menerima Rp500.000 dari iuran Komite.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, pada 2019 ia membuka usaha percetakan batu merah. Usaha itu menjadi sumber penghasilan tambahan untuk menghidupi tiga anggota keluarganya.
Cerita dari Ojandetun memperlihatkan bahwa usia kemerdekaan yang telah mencapai 81 tahun belum otomatis menghapus ketimpangan. Bagi sebagian warga di pelosok, kemerdekaan masih berbenturan dengan persoalan yang sangat dasar: sulit berkomunikasi, sulit mengakses teknologi pendidikan, dan belum layaknya kesejahteraan tenaga pendidik.
Karena itu, bagi Yohanes, momentum HUT ke-81 Republik Indonesia bukan sekadar perayaan. Ia berharap para pemimpin melihat persoalan di daerah seperti Ojandetun sebagai bagian penting dari pekerjaan membangun Indonesia.
Ia ingin pembangunan tidak berhenti pada slogan kemajuan, tetapi benar-benar menjangkau masyarakat yang selama ini hidup jauh dari pusat pelayanan.
Sebab bagi warga Ojandetun, merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti dapat berkomunikasi tanpa harus berjalan berkilo-kilometer, belajar dengan akses teknologi yang layak, dan bekerja sebagai guru dengan penghidupan yang manusiawi.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
