Mensos Gus Ipul Prihatin Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada, Tekankan Akurasi Data Warga Miskin
JAKARTA, iNewsTTU.id – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka cita mendalam sekaligus keprihatinan atas tragedi bunuh diri yang dilakukan seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Korban berinisial YBS (10), diduga nekat mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga. Bocah malang tersebut disebut tidak mampu membeli perlengkapan sekolah sederhana seperti pena dan buku.
Menanggapi peristiwa memilukan itu, Gus Ipul menegaskan bahwa kasus tersebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar warga miskin dan rentan benar-benar mendapatkan perlindungan sosial yang layak.
“Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul saat memberikan keterangan di Jakarta.
Gus Ipul menambahkan, tragedi ini menjadi pengingat bahwa kunci utama dalam penanganan kemiskinan dan perlindungan sosial terletak pada akurasi data. Ia menegaskan tidak boleh ada warga yang membutuhkan bantuan namun justru luput dari pendataan pemerintah.
“Bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, dan kita harapkan tidak ada yang tidak terdata. Ini hal yang sangat penting, kembali kepada data,” tegasnya.
Menurut Gus Ipul, data yang valid dan akurat akan sangat menentukan efektivitas penyaluran berbagai program bantuan sosial dari pemerintah.
“Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga yang memang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan. Ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama,” pungkasnya.
Sebelumnya, kasus bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada ini mengundang keprihatinan luas masyarakat. Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan korban kepada ibunya.
Surat tersebut ditemukan oleh anggota Polres Ngada saat melakukan olah TKP di sekitar lokasi kejadian di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Kamis (29/1/2026) siang.
Korban YBS (10) diketahui tinggal bersama neneknya dan ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh, tidak jauh dari pondok sederhana tempat tinggalnya.
Dalam surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada ibunya yang ia panggil Mama Reti. Surat tersebut kemudian beredar luas dan viral di media sosial.
Tulisan tangan itu diawali dengan kalimat “Kertas Tii Mama Reti” yang berarti surat untuk Mama Reti, dilanjutkan dengan pesan “Mama Galo Zee” atau mama, saya pergi dulu.
Korban juga meminta sang ibu untuk merelakan kepergiannya dan tidak menangis, sebagaimana tertuang dalam kalimat “Mama molo Ja'o” dan “Galo mata Mae Rita ee Mama”.
Dalam bagian lain, korban menuliskan pesan agar ibunya tidak mencari dan tidak merindukannya, sebelum menutup surat dengan kalimat perpisahan “Molo Mama” yang berarti selamat tinggal, Mama.
Di akhir surat, korban menggambar sosok anak dengan wajah menangis, yang semakin menguatkan kesan emosional dari pesan terakhir yang ditinggalkannya.
Editor : Sefnat Besie