get app
inews
Aa Text
Read Next : Penanganan TPPO Dipertanyakan, Penghargaan Jalan tapi Perkara Mandek

Dituding Curi HP, Bocah Kelas III SD di Kupang Alami Trauma dan Tak Mau Sekolah

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:59 WIB
header img
Gaudensia Eko, ibu korban siswa SD yang dituduh mencuri HP, Senin(10/02/2026). Foto: Eman Suni

KUPANG,iNewsTTU.id-- Seorang bocah berusia 9 tahun berinisial YA, siswa kelas III di SD Negeri Oehendak, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, diduga mengalami trauma psikologis setelah dituduh mencuri telepon genggam milik penjaga sekolah. Tuduhan tersebut membuat YA merasa malu, tertekan, bahkan menolak kembali bersekolah.

“Saya malu ke sekolah,” ujar YA lirih kepada ibunya.

Peristiwa ini diceritakan langsung oleh Gaudensia Eko, ibu kandung YA, kepada media. Ia mengungkapkan kejadian bermula pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 12.00 WITA.

Menurut Gaudensia, saat itu sebuah handphone milik penjaga sekolah diletakkan di atas meja. YA kemudian mengambil HP tersebut dan menyimpannya di dalam laci, lalu masuk kembali ke kelas. Anak itu tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya hingga pulang sekolah sore hari.

Namun, Rabu malam, pihak sekolah menghubungi keluarga dan meminta orang tua YA untuk menghadap ke sekolah keesokan harinya. Pemanggilan tersebut membuat YA panik dan menangis ketakutan.

“Dia bangun sambil menangis dan bilang, Mama bukan saya curi, saya hanya ambil dan taruh di laci,” tutur Gaudensia.

Keesokan harinya, Gaudensia bersama anaknya menghadap pihak sekolah. Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah tetap menyatakan YA sebagai pihak yang mengambil HP, dengan alasan ada saksi yang melihat.

“Saya bilang, anak saya ambil tapi tidak bawa pulang, tidak taruh di tas. Kalau anak mencuri, pasti disimpan,” jelas Gaudensia.

Namun, menurutnya, pihak sekolah justru menegaskan bahwa jika HP tidak diambil oleh YA, maka barang tersebut tidak akan hilang. Pernyataan itu membuat keluarga merasa anak mereka dijadikan kambing hitam.
Merasa tertekan dan takut, Gaudensia bahkan mengaku sempat memukul anaknya sendiri di rumah karena takut anaknya berbohong dan terjerat masalah hukum.

“Saya ini orang kecil, jual sayur sehari cuma dapat Rp5.000. Saya takut anak saya masuk penjara,” katanya sambil menangis.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut