Puluhan Guru SMK di TTU dan Malaka Digembleng Soft Skill demi Masa Depan Siswa di Dunia Kerja
KEFAMENANU, iNewsTTU.id – Tantangan dunia kerja dan dunia usaha yang semakin dinamis menuntut lulusan SMK tidak hanya ahli secara teknis (hard skill), tetapi juga piawai secara personal (soft skill).
Menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Karunia Pengembangan Anak (YKPA) mitra ChildFund International di Indonesia menggelar Training of Trainers (ToT) bagi puluhan guru SMK se-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Malaka.
Kegiatan intensif selama empat hari di Hotel Livero, Kefamenanu, sejak Rabu (04/02/2026) dan akan berakhir hari ini, (Sabtu, 6/2/2026) ini difokuskan pada pengintegrasian soft skill ke dalam kurikulum sekolah agar siswa lebih siap menghadapi dunia kerja.
Project Director YKPA mitra ChildFund International di Indonesia, Martina Telik Berek, menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional adalah bekal wajib bagi siswa SMK agar tidak kaget saat memasuki dunia industri.
“Lulusan SMK tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi teknis. Kami ingin para guru mampu mengimbaskan kemampuan berpikir kritis dan pengelolaan emosi kepada anak didik. Inilah yang dibutuhkan agar mereka siap bersaing saat bekerja atau berwirausaha,” jelas Martina.
Pentingnya penguasaan soft skill dirasakan langsung manfaatnya oleh para pemangku kepentingan pendidikan vokasi, di antaranya:
-Kemampuan Komunikasi Bisnis: Koordinator Pengawas SMA/SMK TTU, Ny. Elfira Ogom, menyebutkan soft skill membantu siswa memasarkan hasil karya mereka.
"Jika komunikasinya bagus, publikasi hasil produksinya menarik, maka masyarakat akan tertarik membeli hasil karya siswa," ujarnya.
Adaptasi di Tempat Kerja: Ketua MKKS SMK Malaka, Siprianus Kehi Mau, menyoroti pentingnya soft skill saat siswa menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dengan soft skill yang baik, siswa mampu membangun team work dan beradaptasi dengan berbagai status sosial di lingkungan kerja yang baru.
Kesiapan Mental Industri: Ketua MKKS SMK TTU, Yanuarius Seran Fahik, menegaskan integrasi soft skill ke kurikulum adalah dasar kecakapan anak didik.
"Ending-nya adalah kesiapan anak menghadapi dunia kerja. Kami akan mengimplementasikan ini di masing-masing sekolah," tegasnya.
Tak sekadar pelatihan, YKPA bersama pihak Korwas akan melakukan pemantauan rutin untuk memastikan kurikulum soft skill benar-benar diterapkan di sekolah.
Langkah ini diambil untuk memastikan lulusan SMK di wilayah perbatasan menjadi agen perubahan yang memiliki etika kerja tinggi dan keterampilan interpersonal yang unggul.
Sebanyak 57 peserta dari 25 SMK di TTU dan 13 peserta dari 6 SMK di Malaka mengikuti kegiatan ini dengan antusias, membawa harapan baru bagi peningkatan kualitas SDM lulusan SMK di Nusa Tenggara Timur.
Editor : Sefnat Besie