get app
inews
Aa Read Next : Koordinator Komunitas Sto. Tomas Jakarta Sumbangkan 100 Paket Sembako di Dusun Banopo

Kisah Perantau Difabel di NTT, Berpisah dengan Istri Anak, hingga Tidur di Masjid

Rabu, 28 Juni 2023 | 12:44 WIB
header img
Kisah Perantau Difabel di NTT, Berpisah dengan Istri, Bahkan Tak Punya Biaya Pulang Hingga Tidur di Masjid. Foto: ist

KUPANG, iNewsTTU.id -Setiap orang memiliki rencana menata hidup lebih baik, bahkan dalam setiap rencana selalu menginginkan agar berjalan mulus, namun tidak sedikit yang harus menelan rasa pahit ketika rencana tidak sesuai harapan.

Hal itu yang sedang dirasakan oleh Andew Leendrao, dia terpaksa harus pulang ke Kampung halamannya di Provinsi Sumatera Selatan, setelah berpisah dengan istrinya di Kota Soe, bahkan kehabisan uang dan harus tidur di emperan Masjid di Kota Kupang.

Saat mendapat pertolongan untuk bisa pulang kampung, Andew Leendrao pun tersenyum, saat turun dari mobil Honda Brio berwarna merah, tepat di halaman terminal keberangkatan Bandar Udara (Bandara) El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (27/6/2023) pagi.

Warga Desa Sugihan, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, dibantu oleh Rahman, Kukuh dan Angelica, untuk masuk ke dalam Bandara untuk segera naik pesawat City Link tujuan Kupang-Jakarta.

Dua nama terakhir Angelica dan Kukuh, merupakan warga Sumatera Selatan yang sudah menjadi warga Kota Kupang. Keduanya tergabung dalam Ikatan Komunitas Sumatera Bagian Selatan (IKASS).

Keduanya pun pagi itu dengan cekatan mengatur keberangkatan Andrew menuju kampung halamannya.

Kukuh membantu membawa koper kecil milik Andrew, sedangkan Angelica masuk ke dalam Bandara untuk mengambil tiket pesawat, sekaligus mencari kursi roda buat Andrew.

Gerak cepat Angelica dan Kukuh, membuat Andrew berulang kali mengucapkan terimakasih buat keduanya.

Andrew merupakan penyandang difabel yang merantau ke NTT pada tahun 2020 lalu. Di Provinsi kepulauan itu, Andrew tinggal dan bekerja sebagai penjahit pakaian di Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Bukan tanpa alasan pria kelahiran Bengkulu itu nekat ke NTT. Andrew, rupanya terpikat dengan seorang gadis asal Kota Soe berinisial YE yang dia kenal melalui media sosial Facebook pada tahun 2019.

Perkenalan itu, rupanya menumbuhkan benih asmara. Keduanya sepakat berpacaran. Karena ingin hubungan ke jenjang lebih serius, Andrew lalu terbang nekat ke Soe dan menikah dengan YE.

Dari hasil hubungan dengan YE yang juga penyandang difabel, keduanya memiliki seorang anak perempuan NM, yang kini berusia dua tahun.

Pekerjaannya sebagai penjahit, rupanya pemasukannya tak menentu sehingga kehidupan ekonomi keluarganya pun pas-pasan untuk makan dan minum.

Kemudian, pada tahun 2021, Andrew lalu mengajak istri dan anaknya untuk pindah ke Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan.

"Tapi waktu itu Covid-19, sehingga kita akhirnya tidak jadi pindah. Padahal istri saya sudah setuju untuk ikut," kata Andrew, Selasa pagi.

Dalam perjalanan, hubungan dia dan istrinya menjadi renggang sehingga dia pun memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Pulau Andalas.

Namun, karena ketiadaan biaya, Andrew akhirnya terpaksa tidur di Masjid Al Hidayah Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

"Saya sudah tinggal selama satu minggu di masjid ini," ungkap dia.

Tinggal sendirian di ibu kota Provinsi NTT itu, Andrew hanya berharap belas kasihan warga setempat dan juga pengurus masjid.

Kabar Andrew pun sampai ke grup WhatsApp (WA) pengurus IKASS Provinsi NTT.

Angelica yang tersentuh dengan kondisi Andrew, lalu menghubungi sejumlah anggota IKASS yang punya jabatan penting di NTT melalui jaringan pribadi (japri) WA.

"Saat informasi itu disampaikan ke grup, sehingga saya japri beberapa pejabat. Kami lalu kumpul uang," ungkap Angelica.

"Singkat cerita, terkumpulah uang sebanyak Rp 5.250.000. Kami gunakan beli tiket pesawat menuju Palembang. Uang sisa Rp 1,8 juta kami kasih buat pegangan di jalan," sambungnya.

Kabar Andrew pun sampai ke grup WhatsApp (WA) pengurus IKASS Provinsi NTT.

Angelica yang tersentuh dengan kondisi Andrew, lalu menghubungi sejumlah anggota IKASS yang punya jabatan penting di NTT melalui jaringan pribadi (japri) WA.

"Saat informasi itu disampaikan ke grup, ada usulan untuk dimasukan ke Dinas Sosial tapi saya tidak setuju, sehingga saya japri beberapa pejabat. Kami lalu kumpul uang," ungkap Angelica.

"Singkat cerita, terkumpulah uang sebanyak Rp 5.250.000. Kami gunakan beli tiket pesawat menuju Palembang. Uang sisa Rp 1,8 juta kami kasih buat pegangan di jalan," sambungnya.


Andew Leendrao saat hendak pulang k Kampung Halaman d Andalas Sumatera Selatan. foto:ist

 

Menurut Angelica, dia dan pengurus IKASS melakukan semuanya itu semata sebagai bentuk solidaritas sebagai warga satu daerah yang membutuhkan bantuan.

Dia berharap, apa yang diberikan itu bisa bermanfaat buat Andrew.

Andrew lalu terbang menuju Jakarta dan selanjutnya ke Palembang. Dia akhirnya tiba di kampung halamannya.

Andrew dijemput oleh sejumlah aparat Kepolisian Resor (Polres) Muara Enim di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Pelembang.

Dia lalu dibawa menggunakan mobil Satuan Lalu Lintas Polres Muara Enim dan tiba di kampungnya, Selasa sore sekitar pukul 19.11 Wita.

Andrew lalu disambut oleh keluarga besarnya di kampung.

"Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya, khusunya keluarga besar IKASS di NTT dan jajaran Polres Muara Enim.  Saya berharap, kehidupan saya bisa lebih baik ke depannya," kata Andre.

 

 

 

Editor : Sefnat Besie

Follow Berita iNews Ttu di Google News Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut