Kondisi sumber mata air yang menjadi andalan warga kini semakin memprihatinkan. Maria mengatakan air yang dahulu tidak mengandung kapur kini berubah dan turut tercampur abu vulkanik.
Karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi, warga harus melakukan sejumlah cara sederhana sebelum air diminum. Air dimasak, disaring, kemudian dibiarkan beberapa waktu hingga endapannya turun.
“Dulunya tidak berkapur, tapi sekarang ini sudah berkapur. Dimasak dulu, disaring, taruh sampai mengendap dulu baru diminum. Selain itu, abu vulkanik juga bercampur dengan air,” katanya.
Keterbatasan ekonomi membuat tidak semua keluarga mampu membeli air galon. Warga yang memiliki kemampuan finansial memilih membeli air kemasan untuk memenuhi kebutuhan minum.
Sementara bagi keluarga kurang mampu, sumber mata air tersebut masih menjadi pilihan utama meski kualitas airnya dikeluhkan telah berubah.
Persoalan air bersih ini terjadi ketika aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih menjadi perhatian. Abu vulkanik yang terbawa ke sejumlah wilayah turut menambah kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas lingkungan dan sumber air.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
