SIKKA, iNewsTTU.id. Sepuluh atlet Derina Winners Club (DWC) Taekwondo Sikka menorehkan prestasi membanggakan dalam Grade C National Open Tournament Taekwondo Piala Danrem 052/WKR di Jakarta, 23 Agustus 2026.
Dalam kejuaraan tingkat nasional tersebut, para atlet asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil membawa pulang 12 medali, terdiri dari delapan medali emas, satu perak, dan tiga perunggu.
Prestasi itu sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Sikka di tingkat nasional. Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita tentang perjuangan para atlet dan orang tua yang harus membiayai keberangkatan secara mandiri.
Pelatih DWC Taekwondo Sikka, Derina da Cunha, mengatakan seluruh biaya keberangkatan tim ke Jakarta ditanggung melalui swadaya orang tua atlet, kas tim, serta dana pribadi.
Perjalanan menuju Jakarta bahkan ditempuh dengan menggunakan kapal menuju Surabaya, kemudian dilanjutkan dengan kereta api menuju Jakarta. Biaya penginapan dan kebutuhan selama mengikuti kejuaraan juga ditanggung secara mandiri.
“Setiap kali kejuaraan, kita menggunakan dana swadaya orang tua dan kas tim. Kami sudah beberapa kali bersurat maupun menyampaikan secara lisan kepada Pemkab Sikka, namun tidak ada tindak lanjut sama sekali,” kata Derina, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat tim memilih tetap mandiri agar para atlet dapat terus mengikuti berbagai kompetisi.
“Karena sudah terbiasa, kami tidak bingung lagi dan memilih jalan secara mandiri,” ujarnya.
Lima Kali Ikuti Kejuaraan
Derina mengatakan DWC Taekwondo Sikka yang didirikannya sejak 2021 telah lima kali mengikuti kejuaraan, baik di tingkat regional maupun nasional.
Dalam kejuaraan di Jakarta, dua atlet diturunkan pada kelas prestasi, yakni Paskalia Melani Mafrida Putri dan Yohanes Wilfin Parera. Sementara delapan atlet lainnya tampil pada kelas pemula.
Derina mengaku selama membina klub tersebut belum pernah mendapatkan bantuan fasilitas maupun dana pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Sikka.
Padahal, menurut dia, para atlet DWC telah beberapa kali menorehkan prestasi, termasuk meraih medali emas dan predikat juara umum dalam sejumlah kejuaraan.
“Setidaknya ada perhatian atau apresiasi untuk anak-anak yang sudah berjuang membawa nama Nian Tana. Kami sangat membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam penyediaan fasilitas dan sarana latihan,” tegasnya.
Dalam pembinaan para atlet, Derina juga didampingi dua asisten pelatih, yakni Thomas Novrianus dan Albert Keytimu.
Keduanya turut berperan dalam proses latihan dan persiapan atlet hingga menghadapi kompetisi tingkat nasional.
Orang Tua Atlet Minta Pemerintah Lebih Adil
Kebanggaan juga dirasakan para orang tua atlet. Salah satunya Maria Simporosa yang mengaku terharu melihat perjuangan anak-anak DWC hingga mampu membawa pulang 12 medali dari Jakarta.
“Kami orang tua sangat bangga dan terharu. Anak-anak sudah memberikan yang terbaik dengan hasil yang luar biasa,” kata Maria.
Ia berpesan agar para atlet tidak cepat berpuas diri dan terus meningkatkan kemampuan melalui latihan.
“Jangan cepat puas, harus terus berlatih karena mempertahankan prestasi itu tidak mudah,” ujarnya.
Di sisi lain, Maria berharap Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan perhatian yang lebih adil kepada seluruh cabang olahraga.
Menurutnya, dukungan pemerintah seharusnya tidak hanya diberikan kepada cabang olahraga tertentu, tetapi juga kepada atlet dari berbagai cabang yang membawa nama Sikka dalam kompetisi di luar daerah.
“Dukungan dari Pemkab selama ini belum ada. Harapan kami ke depan, Pemda harus lebih adil dalam memperhatikan dan mengapresiasi semua cabang olahraga. Selama ini terkesan hanya beberapa cabor saja yang disuport,” katanya.
Maria menilai dukungan terhadap atlet tidak cukup hanya dalam bentuk seremoni penghargaan setelah meraih prestasi.
Menurut dia, pemerintah perlu memberikan dukungan konkret, terutama untuk pembinaan, fasilitas latihan, serta biaya keberangkatan mengikuti kejuaraan.
“Belum mendapatkan dukungan dari Pemda setempat, tetapi kami orang tua tetap semangat mendukung anak-anak untuk terus mengikuti turnamen di luar Kabupaten Sikka. Kami tidak mau keterbatasan menjadi alasan anak-anak berhenti mengejar prestasi,” tambahnya.
Apresiasi dari Sekolah
Di tengah minimnya dukungan pemerintah daerah, Maria mengapresiasi pihak sekolah yang dinilai telah memberikan ruang bagi para atlet untuk mengikuti pertandingan.
“Dari pihak sekolah sudah ada dukungan dengan memberikan izin dan tidak mempersulit anak-anak saat hendak ikut turnamen. Setelah pulang pun pihak sekolah memberikan apresiasi,” ujarnya.
Ia berharap dukungan tersebut dapat terus diberikan setiap kali para atlet mengikuti kompetisi.
12 Medali Jadi Bukti Potensi Atlet Sikka
Perolehan delapan emas, satu perak, dan tiga perunggu menjadi bukti potensi atlet taekwondo Kabupaten Sikka di tingkat nasional.
Prestasi tersebut diraih di tengah keterbatasan fasilitas dan pembiayaan. Dukungan orang tua, pelatih, serta disiplin para atlet menjadi modal utama DWC untuk tetap berkompetisi.
Namun, keberhasilan tersebut juga memunculkan harapan agar pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap pembinaan olahraga.
Bagi DWC Taekwondo Sikka, 12 medali dari Jakarta bukan sekadar catatan prestasi. Capaian itu menjadi pesan bahwa talenta olahraga di Sikka memiliki potensi untuk terus berkembang apabila mendapatkan dukungan dan pembinaan yang berkelanjutan.
Kini, para atlet kembali berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
Perjuangan mereka pun belum selesai. Prestasi telah diraih, tetapi keberlanjutan pembinaan menjadi pekerjaan bersama antara atlet, orang tua, pelatih, sekolah, dan pemerintah daerah.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
