Angka Kelahiran Turun, Perusahaan Perlengkapan Bayi Jepang Beralih ke Bisnis Hewan Peliharaan

Andika Hendra Mustaqim, Sefnat Besie
angka kelahiran di Jepang mendorong sejumlah perusahaan perlengkapan bayi mengalihkan bisnis. (Foto istimewa).

Salah satunya adalah Lucky Industries, produsen gendongan bayi yang berdiri sejak 1934. Perusahaan itu meluncurkan gendongan khusus anjing bernama Nu-i pada 2022 setelah salah satu karyawannya, Shin Ohta, mendapat ide saat kesulitan menggendong anjing pudelnya yang berbobot hampir lima kilogram ketika berjalan-jalan.

Produk tersebut menjadi bagian dari tren baru yang terlihat dalam ajang Interpets 2026 di Tokyo. Dalam pameran itu, berbagai perusahaan memamerkan produk premium untuk hewan peliharaan, mulai dari kereta dorong, gendongan, popok, hingga makanan organik.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya jumlah hewan peliharaan di Jepang yang kini melampaui jumlah anak berusia di bawah 15 tahun lebih dari dua juta ekor. Menurut Euromonitor, nilai pasar perawatan hewan peliharaan Jepang mencapai sekitar 880 miliar yen pada 2025, meningkat dari 689,6 miliar yen pada 2020.

Perusahaan lain seperti Unicharm juga menikmati pertumbuhan dari bisnis tersebut. Setelah memasuki pasar popok hewan peliharaan pada 2001, divisi perawatan hewan kini menyumbang sekitar 17 persen dari total penjualan perusahaan dengan margin keuntungan lebih tinggi dibanding produk perawatan pribadi.

Juru bicara Unicharm, Isshu Uehara, mengatakan perubahan gaya hidup masyarakat Jepang, seperti meningkatnya jumlah lajang, pasangan menikah di usia lebih tua, dan rumah tangga tanpa anak, membuat banyak orang menjadikan hewan peliharaan sebagai sumber kedekatan emosional.

Menurutnya, tren "humanisasi hewan peliharaan", yakni memperlakukan hewan sebagai anggota keluarga bahkan layaknya anak, membuat permintaan terhadap produk premium terus meningkat.

CEO Lucky Industries Hiroyuki Higuchi mengatakan pasar perlengkapan bayi semakin menyusut akibat berkurangnya jumlah kelahiran, sementara pasar hewan peliharaan justru terus bertumbuh.

Sosiolog dan Direktur German Institute for Japanese Studies, Barbara Holthus, menilai perubahan struktur keluarga di Jepang menjadi faktor utama berkembangnya tren tersebut. Ia menyebut hewan peliharaan kini tidak hanya dipandang sebagai peliharaan, tetapi juga sebagai teman hidup, pendamping setelah perceraian atau kehilangan pasangan, hingga teman bermain bagi anak tunggal.

Menurut Holthus, pergeseran perusahaan perlengkapan bayi ke industri hewan peliharaan merupakan respons logis terhadap perubahan demografi Jepang yang membuat pasar produk bayi terus menyusut.

Editor : Sefnat Besie

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network