Ia menjelaskan, meski pernah terjadi kekosongan, tidak semua puskesmas mengalami hal yang sama. Dinas Kesehatan menerapkan sistem redistribusi antar puskesmas apabila ada fasilitas kesehatan yang kehabisan stok.
"Kalau ada puskesmas yang kosong, kami arahkan mengambil stok dari puskesmas terdekat yang masih tersedia. Jadi pelayanan tetap berjalan," katanya.
Meski demikian, Eykman mengakui kebutuhan vaksin di TTU sangat tinggi. Dengan angka kasus gigitan anjing yang terus meningkat, stok 1.500 vial diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar dua hingga tiga bulan.
Bahkan, khusus di wilayah kerja Puskesmas Kota Kefamenanu saja, jumlah kasus gigitan anjing dilaporkan mencapai sekitar 2.000 kasus dalam setahun.
Sementara itu, untuk serum anti rabies (SAR) yang digunakan pada kasus gigitan berisiko tinggi, Dinas Kesehatan TTU mengaku hingga kini masih mengalami kekosongan stok.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
