KEFAMENANU, iNewsTTU.id – Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Napan yang terletak di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, mencatat tren perlintasan yang stabil di awal tahun 2026.
Meski baru memasuki bulan ketiga, aktivitas orang dan barang di pos yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2024 lalu ini menunjukkan pola yang serupa dengan tahun sebelumnya.
Kepala PLBN Napan, Don Gaspar, mengungkapkan bahwa persentase perlintas saat ini masih didominasi oleh warga negara asing (WNA).
"Sejauh ini perbandingannya sekitar 60 persen warga Timor Leste yang masuk ke Indonesia, sementara 40 persen adalah warga Indonesia yang menuju ke Oecusse, Timor Leste," ujar Don Gaspar saat memberikan keterangan kepada awak media, Kamis (5/3).
Faktor Kekerabatan dan Ekonomi
Menurut Don, tingginya angka kunjungan warga Timor Leste ke wilayah Indonesia lebih didorong oleh hubungan kekeluargaan yang erat di perbatasan. Urusan adat seperti pernikahan hingga pelayatan (kedukaan) menjadi magnet utama pergerakan lintas negara.
"Hubungan kekeluargaan di sini sangat kuat. Urusan kematian, pernikahan, dan adat istiadat sangat dominan. Biasanya warga dari desa tetangga di Timor Leste lebih banyak masuk ke kita (Indonesia) untuk urusan-urusan sosial tersebut," jelasnya.
Selain urusan sosial, faktor ekonomi juga menjadi pendorong utama. Keberadaan Pasar Tono di wilayah Timor Leste pada hari Jumat kerap memicu fluktuasi jumlah perlintas.
Pada hari biasa (Senin-Kamis), jumlah warga yang melintas berkisar antara 60 hingga 70 orang per hari. Namun, saat hari pasar, angka tersebut melonjak hingga lebih dari 100 orang per hari, baik untuk tujuan belanja kebutuhan pokok maupun menjual hasil bumi.
Aktivitas Ekspor-Impor
Terkait arus barang, Don Gaspar menjelaskan bahwa aktivitas ekspor dari Indonesia ke Oecusse, Timor Leste, tergolong rutin yakni dua kali dalam seminggu. Komoditas yang dikirim meliputi bahan bangunan, suku cadang kendaraan, alat elektronik, air mineral, hingga sembako.
Sebaliknya, untuk aktivitas impor dari Timor Leste ke Indonesia biasanya terjadi satu bulan sekali dengan komoditas utama berupa hasil hutan atau kutulak.
"Secara keseluruhan, masyarakat di sana memang lebih banyak membutuhkan suplai dari kita, baik untuk urusan ekonomi maupun kebutuhan sehari-hari," tutup Don.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
