Tak Ganggu Musim Tanam Petani, BBWS NTT II Pastikan Proyek Irigasi Inpres Segera Dimanfaatkan

Eman Suni
Proyek Irigasi impres di didesa Oetuke kecamatan Kolbano, kabupaten TTS. Senin(19/01/2026). Foto: Istimewa

Tantangan Akhir Tahun dan Musim Hujan

Parlinggoman mengakui tantangan lapangan cukup besar, terutama karena pelaksanaan pekerjaan beririsan dengan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, di mana sebagian besar tenaga kerja lokal di NTT menghentikan aktivitas sementara. Selain itu, penyelesaian pekerjaan juga berlangsung pada musim hujan, serta lokasi proyek yang tersebar luas dan sebagian sungai bersifat intermiten.

“Di akhir Desember memang terlihat aktivitas menurun, namun itu bukan pekerjaan ditinggalkan. Sebagian tenaga kerja lokal libur Natal, sementara tenaga dari luar daerah tetap bekerja,” ujarnya.


Menjawab kekhawatiran petani terkait potensi gagal tanam, BBWS NTT II memastikan pasokan air ke lahan pertanian tetap diupayakan terpenuhi.

“Tidak boleh ada satu pun kegiatan kami yang mengganggu aktivitas petani. Jika saluran belum bisa mengalirkan air, kami siapkan solusi alternatif, termasuk pompanisasi,” tegas Parlinggoman.

Ia mencontohkan kegiatan monitoring di DI Oehani, Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara, pada 15 Januari 2026, di mana pihaknya turun langsung memastikan kesiapan petani menghadapi Musim Tanam I serta menjamin ketersediaan air hingga panen.

Secara keseluruhan, progres fisik dari 80 daerah irigasi telah mencapai di atas 80 persen. Meski masih terdapat beberapa lokasi dengan progres rendah, Parlinggoman menargetkan penyelesaian dapat dirampungkan dalam 50 hari pertama masa perpanjangan, bahkan tanpa harus menggunakan kesempatan maksimal 90 hari.

“Kami juga akan melakukan serah terima parsial untuk lokasi yang sudah selesai agar bisa langsung dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Terkait sorotan publik atas nilai kontrak yang dinilai besar di beberapa lokasi, Parlinggoman menegaskan bahwa nilai tersebut merupakan total paket provinsi, bukan hanya untuk satu titik irigasi.

“Misalnya di Kabupaten Belu atau Amfoang Utara, panjang saluran yang dikerjakan hanya ratusan meter hingga sekitar 1,4 kilometer, tetapi itu bagian dari paket besar yang tersebar di seluruh NTT,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Parlinggoman mengajak media dan masyarakat untuk ikut mengawasi proyek secara konstruktif.

“Kami terbuka terhadap kritik dan informasi dari lapangan. Kalau ada pekerjaan yang terlambat atau bermasalah, sampaikan ke kami. Pengawasan bersama justru membantu kami menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih baik,”pungkasnya.

Editor : Sefnat Besie

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network