get app
inews
Aa Text
Read Next : Kasus Pabrik Rumput Laut Rp4,3 Miliar, Anggota DPRD NTT Julius Uly Dipanggil Penyidik

Tangis Ibu Siswa SD di Ngada yang Akhiri Hidup: Kenang Detik Terakhir dan Pertanyaan Soal Dana PIP

Jum'at, 06 Februari 2026 | 08:28 WIB
header img
Maria Goreti Te’a (47) baju kuning, ibunda siswa SD yang meninggal gantung diri di Kabupaten Ngada, NTT. (Foto: iNews).

NGADA, iNewsTTU.id – Suasana duka mendalam masih menyelimuti rumah keluarga YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, yang ditemukan meninggal dunia secara tragis di pohon cengkeh. Di balik kepergiannya, sang ibu, Maria Goreti Te’a (47), mengungkap percakapan terakhir yang menyayat hati.

Maria mengenang, pada pagi naas itu putranya sempat mengeluh pusing dan enggan ke sekolah. Namun, karena tak ingin sang anak tertinggal pelajaran, Maria tetap mengantarkannya menggunakan ojek. Tak disangka, itu menjadi pertemuan terakhir mereka.

Menunggu Dana PIP dan Tekanan Ekonomi

Maria membeberkan bahwa sebelum kejadian, YBR sempat menanyakan perihal Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan pendidikan dari pemerintah yang sangat dinanti keluarga mereka untuk menyambung sekolah.

"Dia sempat tanya hari Senin, PIP apa sudah terima? Saya jawab belum. Saya bilang uang dari mana, saya minta keterangan dari desa dulu. Untuk tahap pertama uang sekolah sudah lunas, nanti berikutnya kalau PIP sudah cair," kenang Maria dengan suara bergetar, Kamis (5/2/2026).

Keseharian YBR dikenal sebagai anak yang ulet. Di luar jam sekolah, ia membantu neneknya menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar. Kemiskinan ekstrem memaksa keluarga ini seringkali hanya mengandalkan ubi dan pisang sebagai menu makan harian. Tragisnya, meski hidup di bawah garis kemiskinan, keluarga ini dilaporkan luput dari berbagai skema bantuan sosial pemerintah lainnya.

Respons Kemendikdasmen: Kejadian Sangat Serius

Tragedi ini memicu reaksi keras dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Atip Latipulhayat, menyebut wafatnya siswa SD di Ngada ini sebagai persoalan serius yang melibatkan isu kompleks kesejahteraan psikososial anak.

"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius. Mendiang sebenarnya tercatat sebagai penerima PIP yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme. Namun, perlindungan anak tidak cukup hanya finansial, butuh dukungan moral dan lingkungan yang suportif," ujar Atip, Rabu (4/2/2026).

Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah turun tangan berkoordinasi dengan Pemda Ngada untuk mendampingi keluarga korban, termasuk memastikan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya yang masih sekolah.

Pesan Terakhir dalam Secarik Kertas

Sebelumnya diberitakan, YBR ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Polisi yang melakukan olah TKP menemukan sepucuk surat tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada yang diduga ditulis oleh korban. Surat tersebut berisi pesan perpisahan untuk ibunya.

Kasus ini kini menjadi pengingat pahit bagi semua pihak tentang dampak nyata kemiskinan terhadap kesehatan mental anak, serta pentingnya kehadiran negara secara menyeluruh bagi keluarga rentan di pelosok NTT.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut