Tangis Ibu Siswa SD di Ngada yang Akhiri Hidup: Kenang Detik Terakhir dan Pertanyaan Soal Dana PIP
Keseharian YBR dikenal sebagai anak yang ulet. Di luar jam sekolah, ia membantu neneknya menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar. Kemiskinan ekstrem memaksa keluarga ini seringkali hanya mengandalkan ubi dan pisang sebagai menu makan harian. Tragisnya, meski hidup di bawah garis kemiskinan, keluarga ini dilaporkan luput dari berbagai skema bantuan sosial pemerintah lainnya.
Tragedi ini memicu reaksi keras dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Atip Latipulhayat, menyebut wafatnya siswa SD di Ngada ini sebagai persoalan serius yang melibatkan isu kompleks kesejahteraan psikososial anak.
"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius. Mendiang sebenarnya tercatat sebagai penerima PIP yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme. Namun, perlindungan anak tidak cukup hanya finansial, butuh dukungan moral dan lingkungan yang suportif," ujar Atip, Rabu (4/2/2026).
Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah turun tangan berkoordinasi dengan Pemda Ngada untuk mendampingi keluarga korban, termasuk memastikan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya yang masih sekolah.
Editor : Sefnat Besie