Bupati Ngada Akhirnya Angkat Bicara: Tragedi Siswa SD Bukan Sekadar Masalah Buku dan Pena
Pihak sekolah sendiri merasa terkejut dengan peristiwa ini. Selama di lingkungan pendidikan, korban dikenal sebagai sosok anak yang ceria, aktif, dan ringan tangan. Tidak ada tanda-tanda depresi atau perubahan perilaku signifikan yang tertangkap oleh mata para pendidik.
Hal ini memicu spekulasi adanya tekanan batin yang tersimpan rapat-rapat, sehingga Bupati memerintahkan adanya evaluasi psikologis lebih lanjut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang privat korban.
Mengenai sistem bantuan, Bupati mengakui adanya celah administratif yang merugikan. Meskipun program seperti Program Indonesia Pintar dan bantuan seragam sudah berjalan, status kependudukan ibu korban yang terdaftar di kabupaten lain diduga menjadi penghalang bantuan tersebut sampai ke tangan korban.
Raymundus Bena menegaskan bahwa urusan birokrasi tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi misi kemanusiaan dan pelayanan pendidikan, sehingga ia berkomitmen untuk segera melakukan pembenahan total pada sistem pendataan siswa miskin.
Sebagai langkah jangka panjang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada akan memperketat pengawasan dan memberikan perhatian khusus bagi peserta didik dari keluarga rentan.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah, sekolah, dan lingkungan masyarakat sekitar bahwa pengawasan terhadap anak tidak hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga mengenai kesehatan mental dan kepekaan terhadap beban hidup yang mungkin mereka tanggung sendirian.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta