Viral Kasus Penembakan Burung Hantu di Belu NTT, Ternyata Tyto alba Punya Peran Strategis
Serak Jawa dikenal sebagai predator alami hama pengerat, terutama tikus. Dalam satu malam, seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus, sehingga sangat membantu petani dalam melindungi tanaman dari serangan hama.
Secara habitat, burung hantu Serak Jawa umumnya menghuni kawasan terbuka dan semi-terbuka, seperti persawahan, ladang, perkebunan, padang rumput, serta pinggiran hutan. Selain itu, burung ini juga kerap hidup berdampingan dengan manusia, memanfaatkan bangunan tua, gudang, loteng rumah, lumbung padi, menara, hingga bangunan ibadah yang jarang digunakan sebagai tempat beristirahat atau bersarang.
Habitat Serak Jawa biasanya berada di wilayah dengan ketersediaan mangsa yang melimpah, terutama tikus sawah dan hewan pengerat kecil lainnya. Karena manfaatnya yang besar, burung hantu ini bahkan sengaja dikembangbiakkan dan dilepasliarkan di beberapa daerah sebagai pengendali hama ramah lingkungan, tanpa racun atau bahan kimia.
Serak Jawa bersifat nokturnal, aktif berburu pada malam hari dengan kemampuan pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam. Pada siang hari, burung ini bersembunyi dan beristirahat di tempat-tempat gelap dan tenang, seperti rongga pohon besar atau celah bangunan.
Meski hingga kini populasinya masih tergolong stabil, para pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa kelestarian Serak Jawa perlu mendapat perhatian serius. Alih fungsi lahan, perusakan habitat, serta penggunaan racun tikus secara berlebihan dapat mengancam keberadaan burung hantu ini di alam.
Editor : Sefnat Besie