SIKKA, iNewsTTU.id.- Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang dihadapi warga Dusun Wairbura, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah keterbatasan akses air bersih, warga terpaksa memanfaatkan sumber mata air yang berada di balik tebing di pinggir kampung. Namun, kondisi sumber air tersebut kini berubah.
Air yang sebelumnya disebut jernih dan tidak berkapur, kini mengandung kapur serta bercampur abu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus berjalan menuju sumber mata air dan mengambil air secara manual menggunakan wadah. Air dari kolam mata air tersebut kemudian dibawa pulang untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari minum, memasak, mandi hingga mencuci.
Salah seorang warga Dusun Wairbura, Maria Hebo, mengatakan persoalan kesulitan air bersih telah dirasakan masyarakat sejak jaringan PDAM di wilayah tersebut ditutup.
Menurut Maria, sebagian warga mengalami kesulitan membayar tagihan air. Namun, ia menyebut warga yang telah membayar tagihan juga mengalami persoalan serupa karena jaringan air tetap ditutup.
“Kondisi kesulitan air bersih ini sudah kami alami sejak tahun 2020,” ujar Maria, Senin (10/8/2026).
Kondisi sumber mata air yang menjadi andalan warga kini semakin memprihatinkan. Maria mengatakan air yang dahulu tidak mengandung kapur kini berubah dan turut tercampur abu vulkanik.
Karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi, warga harus melakukan sejumlah cara sederhana sebelum air diminum. Air dimasak, disaring, kemudian dibiarkan beberapa waktu hingga endapannya turun.
“Dulunya tidak berkapur, tapi sekarang ini sudah berkapur. Dimasak dulu, disaring, taruh sampai mengendap dulu baru diminum. Selain itu, abu vulkanik juga bercampur dengan air,” katanya.
Keterbatasan ekonomi membuat tidak semua keluarga mampu membeli air galon. Warga yang memiliki kemampuan finansial memilih membeli air kemasan untuk memenuhi kebutuhan minum.
Sementara bagi keluarga kurang mampu, sumber mata air tersebut masih menjadi pilihan utama meski kualitas airnya dikeluhkan telah berubah.
Persoalan air bersih ini terjadi ketika aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih menjadi perhatian. Abu vulkanik yang terbawa ke sejumlah wilayah turut menambah kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas lingkungan dan sumber air.
Bagi warga Wairbura, persoalan air bersih bukan hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan dan kualitas hidup.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, termasuk memastikan kembali tersedianya jaringan air bersih yang dapat diakses masyarakat.
Warga juga berharap jaringan air di wilayah mereka dapat kembali diaktifkan sehingga keluarga, khususnya mereka yang tidak mampu membeli air galon setiap hari, tidak terus bergantung pada sumber mata air yang kondisinya semakin memprihatinkan.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
