Ia mengibaratkan budaya seperti akar sebuah pohon yang membuatnya tetap berdiri ketika menghadapi perubahan. Tanpa akar budaya yang kuat, masyarakat dapat kehilangan identitas dan kebanggaannya terhadap daerah sendiri.
"Jadi setiap Lewo itu punya nuba dan kekuatan masing-masing. Kita punya kekayaan budaya," sambungnya.
Don Boruk juga menyoroti perubahan pola pendidikan yang menurutnya lebih menekankan ilmu pengetahuan dan teknologi dibandingkan pembentukan budi pekerti.
Kepala Desa Boru Kedang itu mendorong agar pelajaran sejarah dan budaya lokal masuk dalam muatan pendidikan sekolah. Menurutnya, langkah itu penting agar generasi muda mengenal asal-usul, menghargai peninggalan leluhur, serta memiliki karakter yang kuat.
"Sejarah dan budaya lokal adalah identitas kita. Dengan belajar dari lingkungan sekitar, siswa tahu dari mana asal mereka, jati diri, mengetahui hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dengan alam, dengan leluhur menghargai peninggalan leluhur, dan bangga dengan daerahnya," katanya.
Ia menambahkan, pendidikan budaya dapat membentuk sikap sopan santun, gotong royong, dan kepedulian sosial sehingga siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki nilai moral.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
