Usia ke-63, Wulanggitang Diingatkan agar Tak Kehilangan Jati Diri

Marten Liwu
Seminar budaya memperingati HUT ke 63 Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Foto: iNewsTTU.id/Marten Liwu).

Flores Timur, iNewsTTU.id- Enam puluh tiga tahun setelah resmi berdiri, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, mengajak warganya menengok kembali sejarah, budaya, dan identitas daerah itu. Ajakan tersebut mengemuka dalam seminar sehari bertema "Wulanggitang Bangkit, Merawat Akar dan Menjemput Harapan Baru" yang digelar di Boru, Kabupaten Flores Timur, Sabtu, 18 Juli 2026.

Seminar bertema "Wulanggitang Bangkit, Merawat Akar dan Menjemput Harapan Baru" itu mempertemukan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, guru, dan warga. Dua narasumber dihadirkan, yakni aktivis kebudayaan Flores Timur, Silvester Petara Hurit, serta pemerhati budaya Darius Don Boruk.

Bagi Pemerintah Kecamatan Wulanggitang, tema yang dipilih bukan sekadar slogan perayaan. Tema itu menjadi ajakan untuk kembali melihat akar budaya sebagai pijakan dalam menghadapi perubahan zaman.

Camat Wulanggitang Karolus Kelemur mengatakan daerah yang dipimpinnya telah melahirkan banyak generasi. Wulanggitang, menurut dia, dikenal sebagai wilayah yang subur, kaya akan budaya, serta memiliki keberagaman yang terus hidup berdampingan dengan tantangan alam.

"Tema ini bukan sekadar kata tanpa makna. Merawat akar berarti kita tidak boleh melupakan jati diri kita. Kita adalah anak-anak Lamaholot yang memiliki kearifan lokal, adat istiadat dan semangat gotong royong yang telah diwariskan oleh para leluhur," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan arus modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan pegangan terhadap nilai-nilai budaya yang selama ini menjaga hubungan sosial.

"Konsep hukum adat dan penyelesaian masalah secara kekeluargaan harus tetap hidup di tengah-tengah kita. Kita juga tidak boleh hanya menoleh ke belakang tetapi juga harus menatap masa depan," kata dia.

Karolus menilai kesiapan menghadapi masa depan juga harus diwujudkan melalui penguatan mitigasi bencana hingga ke tingkat desa. Di sisi lain, potensi ekonomi lokal juga perlu didorong agar mampu bersaing melalui pemanfaatan teknologi.

Ia menyebut komoditas seperti jambu mete, kopi, kelapa, kemiri, cokelat, dan hasil perkebunan lainnya memiliki peluang untuk berkembang jika dikelola dengan pendekatan yang lebih modern.

"Pendidikan kita juga harus dipersiapkan agar melek teknologi dan mampu bersaing," sambungnya.

Dalam seminar tersebut, Silvester Petara Hurit mengulas makna adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Lamaholot. Menurutnya, budaya lokal tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga membentuk karakter dan identitas masyarakat melalui nilai kesederhanaan, religiusitas, serta penghormatan kepada leluhur.

Nilai-nilai itu, kata dia, menjadi benteng agar masyarakat tidak mudah kehilangan jati diri di tengah derasnya perubahan zaman.

Sementara itu, Darius Don Boruk mengajak peserta menelusuri sejarah lahirnya Wulanggitang. Ia memaparkan asal-usul nama Wulanggitang, perjalanan pembentukan wilayah tersebut, serta nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat.

Menurut Darius Don, hubungan antara agama dan budaya di Wulanggitang bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat agar tetap berjalan seimbang sebagai bagian dari identitas masyarakat Lamaholot.

Editor : Sefnat Besie

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network