Flores Timur, iNewsTTU.id- Optimisme membangun Kecamatan Wulanggitang harus tetap bertumpu pada kekuatan adat dan budaya yang diwariskan leluhur. Di tengah situasi pascabencana, masyarakat diminta tidak kehilangan jati diri, tetapi menjadikan akar budaya sebagai kekuatan untuk bangkit menatap masa depan.
Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, saat memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Kecamatan Wulanggitang di Boru, Senin (20/7/2026).
Dalam arahannya, Ignas Boli mengatakan, membangun Wulanggitang tidak cukup hanya dengan membenahi kerusakan fisik. Yang lebih penting adalah menjaga identitas, nilai, dan spiritualitas masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Optimisme kita untuk membangun Wulanggitang masih berakar pada kondisi adat budaya kita. Karena itu, merawat akar adalah tanggung jawab kita semua untuk melestarikan kekayaan alam, budaya, dan identitas yang telah diwariskan oleh leluhur," ujarnya.
Menurut Ignas tema HUT ke-63, "Wulanggitang Bangkit, Merawat Akar, Menjemput Harapan Baru", lahir dari kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat. Ia mengaku sedih melihat kondisi Wulanggitang pascabencana, namun meyakini semangat masyarakat tidak ikut runtuh.
"Pada momentum yang sangat bermartabat ini, bukan saja hati saya sebagai anak Lewotanah, tetapi hati kita semua hancur melihat wajah Wulanggitang saat ini. Karena itu, tema hari ulang tahun ini sangat tepat. Tunjukkanlah semangat baru di tengah kondisi alam yang sedang kita hadapi," ujarnya.
Ia menegaskan, usia 63 tahun Wulanggitang harus menjadi momentum kebangkitan bersama. Masyarakat diminta tidak larut dalam keadaan, melainkan membangun optimisme untuk menghadapi masa depan.
"Kebangkitan harus menjadi spirit kita bersama. Kita tidak boleh tidur bersama kondisi alam yang kita alami. Kita harus bangkit dan menatap masa depan dengan optimisme," tegasnya.
Ignasius juga menekankan bahwa merawat akar budaya merupakan tantangan peradaban. Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan melalui pendidikan formal, nonformal, maupun pendidikan di lingkungan keluarga dan komunitas masyarakat.
Ia mengapresiasi berbagai kegiatan budaya yang digelar dalam rangkaian HUT Wulanggitang, seperti tutur sejarah, seminar kebudayaan dan penyalaan seribu lilin. Baginya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa bencana hanya merusak bangunan dan infrastruktur, bukan semangat masyarakat.
"Itu menunjukkan bahwa kita memang sedang mengalami bencana, tetapi yang rusak hanyalah fisik. Spiritualitas dan mentalitas kita tetap kuat untuk maju," ujarnya.
Ignasius juga menepis anggapan bahwa festival budaya hanya menghabiskan anggaran. Menurutnya, investasi untuk pelestarian budaya sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur karena menjadi sarana mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
"Kita boleh menginvestasikan miliaran rupiah untuk infrastruktur. Tetapi revitalisasi budaya dengan cara mengajarkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi kita, festival dan ritual adat yang sesuai dengan konteks Wulanggitang," kata Ignas.
Di akhir sambutannya, Ignas Uran mengingatkan bahwa meski ke depan akan terjadi perubahan administrasi pemerintahan dengan bertambahnya desa, identitas sebagai masyarakat Wulanggitang tidak boleh hilang.
"Sebentar lagi akan ada perubahan administrasi pemerintahan. Tetapi merawat akar berarti identitas kita sebagai masyarakat Wulanggitang harus tetap dijaga dan tidak boleh terpengaruh," pintanya.
Mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, Ignasius mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah daerahnya.
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena itulah hari ini kita memperingati 63 tahun berdirinya Kecamatan Wulanggitang sebagai bagian dari perjalanan dan jati diri kita bersama," tutupnya.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
