Menurut mereka, situasi baru mereda setelah Dokter Nur menjelaskan hasil pemeriksaan darah pasien dan menyampaikan bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular serta serum anti bisa ular memang tidak tersedia di rumah sakit swasta tersebut.
"Penjelasan ini yang kami butuhkan supaya kami tidak panik," ujarnya.
Norbertus Tubani juga menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengintimidasi dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya. Setelah menerima penjelasan dari dokter, mereka mengaku menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit, termasuk kepada dr. Icha dan seluruh tenaga medis yang bertugas di IGD.
Hingga kini, meninggalnya dr. Icha masih menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai reaksi di media sosial maupun di tengah masyarakat, terutama terkait pentingnya perlindungan terhadap tenaga kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan kepada pasien.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
