KEFAMENANU, iNewsTTU.id — Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Cendana Wangi menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana (S1) pada Rabu (12/8/2026).
Kegiatan akademik tersebut berlangsung di Aula SVD Laat Manekan, Noemeto, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Sidang senat terbuka tersebut menjadi momentum pengukuhan para wisudawan sekaligus penyerahan ijazah. Pengukuhan dilakukan oleh Ketua STIH Cendana Wangi, Dr. Randy Valentino Neonbeni, SH., M.Kn., sedangkan penyerahan ijazah dilakukan oleh Ketua Program Studi STIH Cendana Wangi.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penyerahan piagam penghargaan kepada wisudawan terbaik.
Usai prosesi pengukuhan, kegiatan dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang disampaikan Ketua Senat STIH Cendana Wangi, Maria Filiana Tahu, S.Sos., M.Hum., dengan tema “Keadilan Ekologis dan Pembangunan Berkelanjutan dari Perspektif Hak Asasi Manusia.”
Dalam orasinya, Maria menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar bagi seorang sarjana.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak akan memiliki makna apabila hanya disimpan dalam pikiran, tetapi harus diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, penegakan keadilan, serta keberanian menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Ketika alam kehilangan keadilannya, manusia pun kehilangan masa depannya,” tegas Maria dalam orasinya.
Ia menjelaskan, pembangunan tidak boleh hanya diukur berdasarkan seberapa besar capaian ekonomi yang dapat diperoleh. Pembangunan juga harus mempertimbangkan apa yang harus dijaga, siapa yang harus dilindungi, serta hak siapa yang tidak boleh dikorbankan.
Maria menyoroti keterkaitan erat antara perlindungan lingkungan dan hak asasi manusia. Menurutnya, ketika hutan rusak, mata air mengering atau sungai tercemar, masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling pertama merasakan dampaknya.
“Berbicara tentang lingkungan hidup sesungguhnya adalah berbicara tentang keadilan. Berbicara tentang keadilan berarti berbicara tentang kemanusiaan dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para sarjana hukum agar tidak hanya memahami hukum sebagai seperangkat aturan, tetapi mampu melihat hukum sebagai instrumen untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia.
Dalam konteks pembangunan, Maria menekankan pentingnya tiga pilar, yakni ekonomi, sosial dan lingkungan, yang harus berjalan bersama prinsip partisipasi masyarakat, non-diskriminasi, akuntabilitas, transparansi serta penghormatan terhadap martabat manusia.
“Tidak semua yang legal selalu adil,” katanya.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan, bendungan, kawasan industri atau pusat ekonomi. Pembangunan pada hakikatnya harus meningkatkan kualitas hidup manusia sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Maria juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi Nusa Tenggara Timur yang memiliki kekayaan alam dan budaya, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan berupa kekeringan, keterbatasan air, perubahan iklim, degradasi lahan dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat.
Karena itu, ia berpesan kepada para wisudawan agar kelak ketika menjadi hakim, advokat, jaksa, birokrat, akademisi maupun pemimpin masyarakat, tetap menempatkan keadilan dan kemanusiaan sebagai landasan utama.
“Jadilah sarjana yang tidak sekadar pandai membaca undang-undang, tetapi juga mampu membaca cerita masyarakat,” pesannya.
Ketua STIH: Wisuda Adalah Pintu Gerbang Pengabdian
Sementara itu, Ketua STIH Cendana Wangi, Dr. Randy Valentino Neonbeni, SH., M.Kn., dalam sambutannya mengangkat tema “Menjadi Penjaga Nurani Keadilan di Era Disrupsi.”
Randy mengatakan, wisuda bukan sekadar seremoni akademik, tetapi merupakan momentum sejarah yang mempertemukan harapan keluarga, cita-cita bangsa dan tanggung jawab moral para lulusan.
“Wisuda bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Wisuda adalah pintu gerbang menuju pengabdian. Hari ini saudara tidak hanya menerima ijazah, tetapi menerima amanah,” katanya.
Ia menegaskan, gelar sarjana hukum bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga mandat untuk menjaga marwah hukum, kehormatan profesi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Randy juga memberikan penghormatan khusus kepada para orang tua wisudawan yang dinilai memiliki peran besar dalam keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.
Menurutnya, kampus memberikan ilmu dan melatih kemampuan berpikir, tetapi keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta menanamkan kejujuran.
“Keberhasilan hari ini adalah kemenangan bersama,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Randy juga mengingatkan para lulusan mengenai tantangan dunia hukum di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Menurutnya, teknologi kini mampu menganalisis jutaan dokumen hukum, membaca pola putusan pengadilan hingga mengubah cara masyarakat bekerja dan mencari keadilan.
Namun, ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan menghilangkan kebutuhan terhadap manusia selama keadilan masih menjadi cita-cita.
“Hukum bukan sekadar logika, bukan sekadar algoritma dan bukan sekadar teks. Hukum adalah tentang manusia, tentang hati nurani dan keberanian membela yang benar,” tegasnya.
Ia menilai, prinsip kemanusiaan dalam penegakan hukum tetap menjadi hal penting di tengah era disrupsi. Dalam konteks Indonesia, nilai tersebut memiliki landasan kuat dalam Pancasila, khususnya sila kedua, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Pada kesempatan tersebut, Randy juga menyampaikan bahwa STIH Cendana Wangi telah memperoleh akreditasi dan tengah mempersiapkan proses reakreditasi yang direncanakan berlangsung pada 2027 atau 2028.
Sidang Senat Terbuka Wisuda STIH Cendana Wangi turut dihadiri jajaran senat dan pimpinan kampus, yakni Ketua Senat Maria Filiana Tahu, S.Sos., M.Hum.; Ketua STIH Cendana Wangi Dr. Randy Valentino Neonbeni, SH., M.Kn.; Wakil Ketua I Bidang Akademik Redentor Obe, SH., MH.; Wakil Ketua II Bidang Administrasi Aprianus W. Loin, SH., MH.; Ketua LPM Yosep C. Apaut, SH., MH.; serta Ketua Program Studi Maria M. A. Kahlasi, SH., MH.
Prosesi wisuda ditutup dengan pesan kepada para lulusan agar membawa ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan untuk mengabdi kepada masyarakat, menegakkan keadilan, menjaga hak asasi manusia dan turut melindungi lingkungan hidup.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
