Tak hanya itu, suasana ruang baca juga dibuat lebih santai menyerupai toko buku modern, lengkap dengan alunan musik klasik guna membantu pengunjung lebih rileks dan fokus saat membaca.
Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial juga terus dijalankan. Konsep ini menggabungkan teori dan praktik. Misalnya, setelah membaca buku tentang menjahit dan desain pola, peserta langsung mengikuti pelatihan menjahit untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh.
“Contohnya membaca teori tentang menjahit, lalu di sini ada pelatihan menjahit dan mereka praktik langsung. Program ini sudah berjalan tahun-tahun sebelumnya dan tetap kami lanjutkan tahun ini,” jelas Robertus.
Setiap Senin, perpustakaan juga menggelar berbagai kegiatan seperti pelatihan menjahit, latihan tarian daerah, bermain gong, hingga bermain bahasa Inggris. Konsep belajar bahasa Inggris dikemas secara menyenangkan agar anak-anak lebih antusias.
“Anak-anak datang ke sini untuk bermain bahasa Inggris. Jadi bukan terasa seperti les, tapi belajar sambil bermain,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan layanan, mobil perpustakaan keliling kini aktif mendatangi sekolah-sekolah sesuai jadwal yang telah disepakati. Buku-buku yang dibawa disesuaikan dengan kategori usia dan kebutuhan siswa.
“Kami menyesuaikan dengan permintaan sekolah. Misalnya, ada sekolah yang meminta kunjungan pukul 11.00 selama dua jam. Kami siapkan buku sesuai kebutuhan anak-anak di sekolah tersebut,” ungkapnya.
Beberapa sekolah seperti SMP Putra, SDN Koko, dan SD GMIT 2 telah memanfaatkan layanan tersebut. Kehadiran perpustakaan keliling dinilai sangat bermanfaat dalam mendekatkan akses literasi kepada siswa.
Dengan berbagai inovasi ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan TTU optimistis minat baca masyarakat akan terus meningkat, sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan, inklusif, dan tanpa batas.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
