get app
inews
Aa Text
Read Next : Persiapan Pasar Perbatasan PLBN Napan Dimatangkan, Launching Dijadwalkan 14 Agustus 2026

Menelusuri Sejarah Awal Lapangan Terbang Sasi, Jejak Transportasi Udara Pertama di TTU

Jum'at, 29 Mei 2026 | 07:04 WIB
header img
Mantan Bupati TTU Periode 1990–2000 Drs Anton Amaunut. (Foto iNewsTTU.id/Sefnat).

Lokasi tersebut kemudian mulai dibersihkan dan ditimbun secara bertahap. Pemerintah bersama masyarakat bergotong royong membangun landasan sederhana agar dapat digunakan oleh pesawat kecil maupun helikopter, termasuk pesawat milik MAF (Mission Aviation Fellowship).

Pembangunan lapangan terbang dilakukan tanpa alat berat modern. 

Material berupa sirtu gunung diangkut secara manual oleh masyarakat dari berbagai kecamatan.

“Semua kerja gotong royong. Orang datang bawa bakul, bawa alat seadanya. Tidak ada alat berat waktu itu,” ujarnya.

Anton Amaunut mengisahkan, masyarakat dari lima kecamatan dilibatkan dalam pekerjaan tersebut. 

Mereka bergiliran datang membantu menimbun dan meratakan lokasi lapangan terbang.

Pembangunan itu terus berlanjut dari masa ke masa, mulai dari kepemimpinan Antonius Lede Umbu Zaza.

Menurut mantan Bupati TTU dua periode ini pada jaman Kepemimpinan Bupati Yakobus Ukat, lapangan terbang sasi mengalami perubahan yang bagus hingga kepemimpinan Bupati J.M. Nailiu dan Stefanus Paus Parera.

Pada masa kepemimpinannya, periode 1990–2000, pengembangan Lapangan Sasi kembali mendapat perhatian melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia dalam program NTT-IADP

Saat itu, sejumlah konsultan asal Australia menetap di Kefamenanu dan membutuhkan akses transportasi udara yang lebih cepat.

“Waktu itu orang Australia masih menggunakan pesawat kecil MAF untuk datang ke Kefamenanu,” jelasnya.

Menurut Anton, pesawat kecil sempat beberapa kali mendarat di Lapangan Sasi. 

Namun, setelah kondisi jalan darat mulai membaik, penggunaan lapangan terbang perlahan ditinggalkan hingga akhirnya tidak lagi difungsikan secara maksimal.

Dia juga mengungkapkan tantangan lain dalam pengembangan kawasan tersebut, yakni keberadaan bukit adat di sekitar Sasi yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

“Waktu itu sempat ada rencana untuk membongkar bukit itu, tetapi masyarakat adat keberatan karena dianggap gunung adat,” katanya.

Meski demikian, Lapangan Sasi tetap menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan TTU, terutama sebagai simbol perjuangan masyarakat dan pemerintah daerah dalam membuka keterisolasian wilayah pada masa lalu.

Informasi Teranyar, Jejak Transportasi udara ini dikabarkan akan diaktifkan kembali pada jaman Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo awal tahun 2026.

Sebelumnya Tim dari Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) kembali melakukan kunjungan ke lokasi rencana pembangunan bandara perintis khusus di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, tim melakukan pengukuran ulang terhadap panjang landasan pacu (runway). Hasilnya, panjang landasan diketahui mencapai 775 meter.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut