Menelusuri Sejarah Awal Lapangan Terbang Sasi, Jejak Transportasi Udara Pertama di TTU
KEFAMENANU, iNewsTTU.id — Di balik hamparan Lapangan Sasi yang kini dikenal masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tersimpan sejarah panjang tentang perjuangan membuka akses transportasi di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur.
Kisah itu diceritakan kembali oleh Bupati TTU periode 1990–2000, Anton Amaunut, kepada wartawan saat ditemui di kediamannya belum lama ini, saat berdialog, dia mengenang awal mula keberadaan lapangan terbang perintis Sasi di Kecamatan Kota Kefamenanu.
Menurut Anton Amaunut, gagasan pembangunan lapangan terbang Sasi lahir dari beratnya kondisi transportasi dan komunikasi di TTU pada masa awal pemerintahan daerah setelah terbentuknya Provinsi NTT.
Saat itu, akses jalan menuju Kupang maupun antar kecamatan di TTU masih sangat sulit. Jalan raya rusak parah dan kendaraan belum memadai. Bahkan, perjalanan menuju Kupang sering kali harus dilakukan dengan penuh perjuangan.
“Kalau mau ke Kupang waktu itu sangat sulit. Bupati harus membawa orang untuk membantu perjalanan sepanjang jalan,” kenangnya.
Tidak hanya menuju ibu kota provinsi, perjalanan ke desa-desa di dalam wilayah TTU pun harus ditempuh dengan berjalan kaki atau menunggang kuda. Saat itu, TTU baru memiliki lima kecamatan dan tiga wilayah swapraja dengan akses yang masih sangat terbatas.
Pada masa pemerintahan pejabat pertama Bupati TTU, D.C. Saudale (1958–1960), persoalan transportasi mulai menjadi perhatian pemerintah.
Upaya itu kemudian dilanjutkan oleh Bupati Drs. Petrus Canisius Tarcisius Salassa yang memimpin pada 1960–1964.

Namun, gagasan pembangunan lapangan terbang mulai serius diperjuangkan pada masa Bupati Antonius Lede Umbu Zaza. Saat itu, pemerintah melihat hampir setiap kabupaten di NTT mulai memiliki lapangan terbang perintis, termasuk Atambua.
Sementara TTU masih terisolasi akibat rusaknya jalan menuju Kupang maupun Atambua. “Karena itu pemerintah mulai mencari lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan lapangan terbang. Setelah ditelusuri, daerah Sasi dianggap paling cocok,” tutur Anton.
Lokasi tersebut kemudian mulai dibersihkan dan ditimbun secara bertahap. Pemerintah bersama masyarakat bergotong royong membangun landasan sederhana agar dapat digunakan oleh pesawat kecil maupun helikopter, termasuk pesawat milik MAF (Mission Aviation Fellowship).
Pembangunan lapangan terbang dilakukan tanpa alat berat modern.
Material berupa sirtu gunung diangkut secara manual oleh masyarakat dari berbagai kecamatan.
“Semua kerja gotong royong. Orang datang bawa bakul, bawa alat seadanya. Tidak ada alat berat waktu itu,” ujarnya.
Anton Amaunut mengisahkan, masyarakat dari lima kecamatan dilibatkan dalam pekerjaan tersebut.
Mereka bergiliran datang membantu menimbun dan meratakan lokasi lapangan terbang.
Pembangunan itu terus berlanjut dari masa ke masa, mulai dari kepemimpinan Antonius Lede Umbu Zaza.
Menurut mantan Bupati TTU dua periode ini pada jaman Kepemimpinan Bupati Yakobus Ukat, lapangan terbang sasi mengalami perubahan yang bagus hingga kepemimpinan Bupati J.M. Nailiu dan Stefanus Paus Parera.
Pada masa kepemimpinannya, periode 1990–2000, pengembangan Lapangan Sasi kembali mendapat perhatian melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia dalam program NTT-IADP.
Saat itu, sejumlah konsultan asal Australia menetap di Kefamenanu dan membutuhkan akses transportasi udara yang lebih cepat.
“Waktu itu orang Australia masih menggunakan pesawat kecil MAF untuk datang ke Kefamenanu,” jelasnya.
Menurut Anton, pesawat kecil sempat beberapa kali mendarat di Lapangan Sasi.
Namun, setelah kondisi jalan darat mulai membaik, penggunaan lapangan terbang perlahan ditinggalkan hingga akhirnya tidak lagi difungsikan secara maksimal.
Dia juga mengungkapkan tantangan lain dalam pengembangan kawasan tersebut, yakni keberadaan bukit adat di sekitar Sasi yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
“Waktu itu sempat ada rencana untuk membongkar bukit itu, tetapi masyarakat adat keberatan karena dianggap gunung adat,” katanya.
Meski demikian, Lapangan Sasi tetap menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan TTU, terutama sebagai simbol perjuangan masyarakat dan pemerintah daerah dalam membuka keterisolasian wilayah pada masa lalu.
Informasi Teranyar, Jejak Transportasi udara ini dikabarkan akan diaktifkan kembali pada jaman Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo awal tahun 2026.
Sebelumnya Tim dari Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) kembali melakukan kunjungan ke lokasi rencana pembangunan bandara perintis khusus di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, tim melakukan pengukuran ulang terhadap panjang landasan pacu (runway). Hasilnya, panjang landasan diketahui mencapai 775 meter.
Kunjungan ini turut didampingi langsung oleh Wakil Bupati TTU Kamilus Elu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, serta perwakilan dari Dinas PUPR dan Dinas Perhubungan setempat.
Tim dari Kementerian Perhubungan Udara terdiri dari Agung Wibowo, S.T., M.Eng. (Inspektur Bandar Udara Ahli Muda)
2. Boris Hidro Kurniawan, S.T. (Inspektur Bandar Udara Ahli Pertama)
3. Septian Tri Pradita Maulana Putra, A.Mdt ( Pengawas Penerbangan)
4. Maria Maharani Gloria Nusantara, S.T. (Pengevaluasi Penerbangan).

Editor: Sefnat Besie