KEFAMENANU, iNewsTTU.id – Agnesia Widyaningsih Babu, Duta Genre Putri Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2025 sekaligus Duta Genre Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) 2025, bersiap membawa nama TTU dan NTT dalam ajang Duta Genre tingkat nasional di Jakarta.
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Timor (Unimor) tersebut telah melakukan berbagai persiapan, termasuk aktif memberikan edukasi kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan dini, penyalahgunaan narkotika dan NAPZA, hingga persoalan perundungan atau bullying.
Saat ini, Agnesia juga sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai bagian dari pengabdiannya di SMA Negeri 1 Kefamenanu.
“Sekarang juga saya sedang menempuh PPL atau praktik mengajar yang sekarang ada di SMA Negeri 1 Kefamenanu kurang lebih selama empat bulan mengabdikan diri di SMA Negeri 1 Kefamenanu,” kata Agnesia saat ditemui di Kefamenanu, Rabu (16/9/2026).
Perjalanan Agnesia menuju ajang nasional tidak berlangsung singkat.
Sebelum terpilih sebagai Duta Genre TTU 2025, ia telah bergabung dalam Forum Genre TTU dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang difasilitasi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) TTU.
Ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosialisasi kepada pelajar di sejumlah sekolah di Kabupaten TTU. Dari kegiatan tersebut, Agnesia juga berkesempatan bertemu dan belajar dari para Duta Genre TTU pada tahun-tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2025, Agnesia dipercaya mewakili TTU dalam pemilihan Duta Genre tingkat Provinsi NTT. Ia kemudian terpilih sebagai Duta Genre Putri Provinsi NTT 2025.
Kini, ia mendapat kesempatan untuk membawa nama NTT dalam ajang Duta Genre tingkat nasional di Jakarta.
“Persiapan saya adalah sebuah persiapan yang panjang. Ini benar-benar persiapan saya lakukan semaksimal saya,” ujarnya.
Bawa Program MEO TTU
Dalam ajang nasional tersebut, Agnesia membawa program kerja bertajuk MEO TTU.
Ia memilih nama tersebut karena dianggap dekat dengan identitas serta pemahaman masyarakat TTU, termasuk masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan.
Agnesia menjelaskan, MEO dalam konteks budaya masyarakat setempat merujuk pada panglima atau sosok yang memiliki peran sebagai pelindung.
“Kurang akrab rasanya kalau saya membawa sebuah nama yang tidak asing di telinga mereka. Maka dari itu nama MEO TTU saya pilih karena ada unsur atau latar belakang keakraban di telinga,” jelasnya.
Berangkat dari filosofi tersebut, MEO TTU dirancang sebagai gerakan yang memberikan perlindungan sekaligus edukasi kepada remaja.
Program tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya remaja yang tangguh, terampil dan unggul dengan perhatian pada kesehatan reproduksi, gizi, pencegahan stunting, kesehatan perempuan hingga persoalan perundungan.
Agnesia juga menjalankan kegiatan edukasi melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Universitas Timor.
Melalui wadah tersebut, remaja dapat memperoleh informasi dan ruang konseling, termasuk melalui peran konselor sebaya.
Ia memanfaatkan berbagai kegiatan mahasiswa, termasuk masa bimbingan mahasiswa baru, sebagai ruang untuk menyampaikan edukasi mengenai persoalan yang dihadapi remaja.
“Bisa kita rolling edukasinya tentang mewujudkan remaja yang tangguh, peduli gizi dan kesehatan, menginspirasi remaja untuk peduli gizi, reproduksi dan kesehatan, pencegahan stunting, peduli tentang bullying yang sekarang lagi marak-maraknya, bisa tentang kesehatan wanita,” katanya.
Menurut Agnesia, isu-isu tersebut merupakan bagian penting dari peran Duta Genre dalam membangun kesadaran remaja agar mampu merencanakan masa depan serta menghindari berbagai risiko yang dapat menghambat kehidupan mereka.
Bukan Sekadar Kompetisi
Agnesia mengatakan keikutsertaannya dalam ajang nasional bukan semata-mata tentang kompetisi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi dan wajah generasi muda NTT.
“Ya namanya sebuah perlombaan pasti ada menang dan kalah. Tapi itu yang saya optimiskan adalah bagaimana saya bisa berdiri membawa nama TTU, nama Nusa Tenggara Timur bersama dengan Dinas P2KB TTU, BKKBN Provinsi agar setidaknya kita putra-putri NTT bisa menampilkan yang terbaik dari kelemahan kita, dari kekurangan kita agar orang-orang bisa memandang bahwa inilah wajah Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.
Ia mengaku bersyukur atas dukungan yang diberikan berbagai pihak, mulai dari keluarga, teman-teman, OPD P2KB TTU hingga BKKBN Provinsi NTT.
“Puji Tuhan dalam doa dari teman-teman, OPD P2KB TTU, BKKBN Provinsi, orang tua saya dan juga teman-teman, mendukung saya menjadi kuat, akhirnya saya dipercayakan untuk membawa nama tidak hanya membawa nama TTU tapi saya juga membawa nama Nusa Tenggara Timur untuk menjadi Duta Genre Nasional,” ujarnya.
Berangkat ke Jakarta 20 September
Agnesia mengatakan persiapan menuju ajang nasional dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari seleksi, wawancara, ujian tertulis hingga pemenuhan persyaratan administrasi.
Kegiatan yang sebelumnya diinformasikan akan berlangsung secara daring tersebut kemudian berubah menjadi kegiatan secara langsung di Jakarta.
Agnesia dijadwalkan berangkat dari Kefamenanu menuju Kupang pada Kamis (17/9/2026) dengan didampingi OPD P2KB TTU.
Setelah menjalani sejumlah agenda di Kupang, ia dijadwalkan bertolak ke Jakarta pada Minggu (20/9/2026) melalui penerbangan pagi.
“Untuk keberangkatan dari Kupang sudah dikonfirmasi keberangkatannya di tanggal 20 penerbangan pagi nanti. Kegiatan intinya terjadi dua hari yakni kegiatan pertama di tanggal 21 dan kegiatan puncaknya di tanggal 22,” jelas Agnesia.
Menjelang keberangkatannya, Agnesia mengajak masyarakat TTU dan NTT untuk memberikan dukungan melalui media sosial.
Dalam ajang tersebut, Agnesia menggunakan nomor urut 38, sedangkan perwakilan Duta Genre Putra NTT menggunakan nomor urut 37.
Masyarakat dapat mengikuti akun resmi penyelenggara dan memberikan dukungan sesuai mekanisme yang ditetapkan, antara lain melalui tanda suka, komentar positif dan membagikan konten peserta.
Video profil dan video advokasi program Agnesia juga dapat diakses melalui kanal YouTube Agentre Indonesia dengan mencari peserta nomor urut 38 dari Provinsi NTT.
Agnesia berharap dukungan masyarakat tidak berhenti pada ajang nasional, tetapi juga menjadi dorongan bagi gerakan edukasi remaja di NTT agar semakin luas, termasuk melalui pemanfaatan media digital.
“Kita sebagai kader-kader yang dipercayakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terkhususnya remaja, mempunyai lebih banyak cara atau lebih banyak ruang untuk bisa menjangkau anak-anak remaja bukan hanya di NTT tetapi untuk bisa mengedukasi lewat media digital,” pungkasnya.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
