Kristo menilai wilayah perbatasan RI-RDTL memiliki potensi pertanian yang besar dan dapat dikembangkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat.
Karena itu, HKTI TTU ke depan akan mendorong petani tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pengolahan hasil dan perluasan akses pasar.
“Petani jangan hanya berhenti pada produksi. Kita harus dorong mereka naik kelas, memiliki akses pasar, mampu mengolah hasil pertanian dan mendapatkan nilai tambah dari produknya,” katanya.
Menurut Kristo, penguatan kelompok tani dan kelembagaan petani juga menjadi agenda penting. Dengan kelembagaan yang kuat, petani diharapkan memiliki posisi tawar lebih baik dalam mengakses pembiayaan, teknologi, sarana produksi hingga pasar.
Ia berharap konsolidasi HKTI dapat diperkuat hingga ke tingkat kabupaten dan daerah sehingga berbagai persoalan yang dihadapi petani dapat dihimpun dan diperjuangkan secara lebih terarah.
“Ukuran keberhasilan HKTI bukan seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa besar manfaatnya dirasakan petani. Kalau pendapatan petani meningkat, produktivitas meningkat, dan mereka memiliki pasar yang jelas, itu berarti HKTI hadir dengan benar,” tegasnya.
Kristo yang juga merupakan anggota DPRD TTU dari Partai Gerindra itu mengatakan, NTT memiliki sejumlah komoditas pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
DPC HKTI TTU, kata Kristo, siap mengambil bagian dengan memperkuat basis organisasi dan membangun komunikasi langsung dengan para petani di daerah.
“Kami siap berjalan bersama. Harapannya, kepemimpinan Fernando Soares membawa perubahan nyata dan memastikan petani NTT benar-benar naik kelas,” ujarnya.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
