SOE, iNewsTTU.id – Puluhan ekor sapi milik warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, ditemukan mati mendadak dalam beberapa hari terakhir.
Kematian ternak tersebut diduga dipicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai kabut tebal dan suhu udara yang turun hingga mencapai 7 derajat Celsius.
Peristiwa ini terjadi di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, dan Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi.
Berdasarkan laporan yang diterima Pemerintah Kabupaten TTS, kematian ternak berlangsung secara bertahap sejak Minggu (26/7/2026), ketika wilayah pegunungan tersebut mulai dilanda cuaca dingin ekstrem.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS, dr. Marthen Johanis Banunaek, mengatakan hingga saat ini sedikitnya 59 ekor sapi dilaporkan mati mendadak.
"Hasil pemeriksaan awal di lapangan tidak menemukan tanda-tanda penyakit menular maupun keracunan. Dugaan sementara, kematian ternak disebabkan cuaca yang sangat buruk, hujan yang berlangsung terus-menerus disertai kabut tebal dengan suhu mencapai 7 derajat Celsius. Sebagian besar sapi tidak mampu bertahan terhadap hawa dingin, terlebih banyak ternak belum memiliki kandang yang memadai untuk melindungi dari cuaca ekstrem," jelasnya.
Menurut Banunaek, Dinas Peternakan telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut sekaligus memastikan tidak ada penyakit yang membahayakan ternak lainnya.
Selain mengambil sampel pemeriksaan, petugas juga memberikan obat-obatan dan vitamin kepada sapi yang masih hidup guna meningkatkan daya tahan tubuh.
"Kami juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten TTS untuk memberikan bantuan stimulan kepada para peternak yang terdampak. Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah dataran tinggi, agar segera memindahkan ternaknya ke kandang yang terlindung dari angin dan hujan serta menambah pakan agar ternak lebih kuat menghadapi suhu dingin," ujarnya.
Pihaknya menambahkan, kondisi cuaca dingin dan berkabut diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah Mollo Utara, Fatumnasi, dan kawasan dataran tinggi lainnya.
Karena itu, para peternak diminta tidak membiarkan ternak berada di tempat terbuka pada malam hingga pagi hari, saat suhu udara berada pada titik terendah.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS menjadwalkan pelayanan massal berupa pemberian vitamin dan vaksin kepada ternak sapi yang masih hidup pada Senin, 3 Agustus 2026.
"Kami akan terus memantau perkembangan kondisi ini dan memastikan ternak yang masih hidup mendapatkan penanganan agar tidak terjadi tambahan kematian," tutup dr. Marthen Johanis Banunaek.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
