"Hubungan kekeluargaan di sini sangat kuat. Urusan kematian, pernikahan, dan adat istiadat sangat dominan. Biasanya warga dari desa tetangga di Timor Leste lebih banyak masuk ke kita (Indonesia) untuk urusan-urusan sosial tersebut," jelasnya.
Selain urusan sosial, faktor ekonomi juga menjadi pendorong utama. Keberadaan Pasar Tono di wilayah Timor Leste pada hari Jumat kerap memicu fluktuasi jumlah perlintas.
Pada hari biasa (Senin-Kamis), jumlah warga yang melintas berkisar antara 60 hingga 70 orang per hari. Namun, saat hari pasar, angka tersebut melonjak hingga lebih dari 100 orang per hari, baik untuk tujuan belanja kebutuhan pokok maupun menjual hasil bumi.
Aktivitas Ekspor-Impor
Terkait arus barang, Don Gaspar menjelaskan bahwa aktivitas ekspor dari Indonesia ke Oecusse, Timor Leste, tergolong rutin yakni dua kali dalam seminggu. Komoditas yang dikirim meliputi bahan bangunan, suku cadang kendaraan, alat elektronik, air mineral, hingga sembako.
Sebaliknya, untuk aktivitas impor dari Timor Leste ke Indonesia biasanya terjadi satu bulan sekali dengan komoditas utama berupa hasil hutan atau kutulak.
"Secara keseluruhan, masyarakat di sana memang lebih banyak membutuhkan suplai dari kita, baik untuk urusan ekonomi maupun kebutuhan sehari-hari," tutup Don.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
