Akibat benturan keras tersebut, Rudi terjatuh dan terguling sambil memegang helm. Sementara istrinya bersama dua anak terlempar ke depan.
“Saya langsung dekati istri, dia tidak sadarkan diri. Tangan kanannya patah di bagian siku, pelipis kiri robek dalam dan berdarah banyak,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kondisi kedua anaknya juga memprihatinkan. Anak bungsunya, Muhamad Afkal (1), mengalami kejang-kejang dan pendarahan hebat, sementara Alfajar (6) mengalami luka di pelipis kanan, gigi seri atas dan bawah patah.
Dengan bantuan warga setempat, seluruh korban dilarikan ke Puskesmas Polen, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Kefamenanu karena kondisi kritis.
“Sekitar dua jam dirawat, anak saya Muhamad Afkal meninggal dunia. Dokter bilang karena pendarahan hebat,” kata Rudi.
Rudi Yansyah, suami korban Yanuaria Theresia saat ditemui di RS Leona Kefamenanu. Foto: iNewsTTU.id/Sefnat
Malam harinya, Yanuaria Theresia dipindahkan ke RS Leona Kefamenanu dan menjalani operasi pada siku tangan kirinya.
“Dokter bilang tulang sikunya masuk ke dalam, jadi harus operasi. Tulang bahu kiri retak berat, tulang leher belakang juga retak,” ungkap Rudi.
Hingga kini, sudah hampir dua minggu istrinya menjalani perawatan intensif dan belum dapat menggerakkan tangan kanan serta lehernya secara normal.
“Dokter sampaikan kemungkinan jari kelingking dan jari manis istri saya tidak bisa berfungsi lagi. Dia belum bisa bangun, punggungnya biru-biru dan iritasi,” tambahnya.
Rudi mengaku hingga saat ini belum ada tanggung jawab serius dari pihak perusahaan pengelola Bus Babadok Trans, selain bantuan awal sebesar Rp10 juta yang diserahkan melalui keluarga.
“Kami hanya berharap ada tanggung jawab penuh atas kejadian ini,” tegasnya.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
