" Saya memilih berhenti jadi ASN karena panggilan hati dan jiwa saya yang kuat untuk lebih melayani masyarakat, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada rekan-rekan ASN, profesi kita sama mulianya, Tapi saya merasa bisa lebih menggunakan waktu secara leluasa untuk menjangkau orang- orang di desa- desa dan membantu mereka secara langsung". Ujar Sandi demikian sapaan akrabnya.
Ia juga bercerita awal mula ia mulai masuk keluar kampung-kampung di pedalaman TTS bukanlah hal yang mudah, namun berkat tekad yang kuat serta yakin akan penyertaan Tuhan padanya, ia terus melangkah membantu warga yang membutuhkan bantuan.
Bahkan ia berkisah ada seorang janda miskin yang sudah lansia tinggal di Ume Khubu ( Rumah Bulat Khas TTS:red) dimana atap rumah tersebut sudah rusak, di tambal dengan kardus, daun pisang, daun kelapa, karung semen,dll, janda lansia ini tinggal seatap bersama babi peliharaannya dan ketika hujan datang janda ini hanya bisa duduk berlindung di sisi rumah yang tidak bocor, dan janda ini akan tetap bertahan selama hujan di sisi tersebut sampai hujan mereda. hal itu membuatnya sangat terharu sehingga ia bersama tim relawan YPKM membantu membuat rumah layak huni bagi janda ini.
" Tidak mudah memang bagi saya dan istri bersama teman- teman relawan masuk keluar kampung, kita tahu sendiri Kabupaten ini begitu luas bahkan ada beberapa desa yang aksesnya sangat sulit untuk kami lalui, tapi itulah kalau kita sudah berkomitmen pada Tuhan untuk membantu sesama lewat talenta kita, maka harus kita lakukan, banyak hal luar biasa yang kami temui seperti ada janda lansia miskin yang mohon maaf tinggal di rumah bulat bersama babi peliharaannya dan kami merasa sangat terharu akan keadaannya sehingga kami membantu membuat rumah layak huni lansia tersebut". Tambahnya.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait