Warga Lereng Gunung Api Lewotobi Berlatih Menyelamatkan Diri dari Ancaman Letusan
Flores Timur, iNewsTTU.id- Sirene dan bunyi pentungan terdengar di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, NTT, Rabu (30/9/2026). Warga mulai bergerak meninggalkan rumah menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Sebagian warga memainkan peran sebagai kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Mereka mengikuti jalur evakuasi yang telah dipasang di wilayah desa.
Situasi itu merupakan bagian dari simulasi menghadapi ancaman erupsi Gunung Lewotobi. Skenarionya dimulai dari laporan peningkatan status gunung api dari level Siaga menjadi Awas.
Dalam simulasi tersebut, petugas Kelompok Siaga Bencana (KSB) dan para kepala dusun menggunakan handy talky (HT) untuk menyampaikan informasi. Kepala Desa Boru, Alfons Kelasa Soge, menerima laporan dari petugas pengamat Gunung Api Lewotobi sebelum meneruskan instruksi kepada kepala dusun dan KSB untuk menginformasikan kondisi tersebut kepada masyarakat.
Warga kemudian diarahkan menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Kegiatan ini dilaksanakan Yayasan Pengkaji dan Pengembangan Sosial (YPPS) Flores Timur bersama Catholic Relief Services Indonesia (CRS ID) Kabupaten Flores Timur. Simulasi melibatkan KSB, masyarakat dan Pemerintah Desa Boru.
Petugas Lapangan YPPS-CRS Flores Timur, Maria Theresia, mengatakan simulasi serupa sebelumnya telah dilakukan. Namun, saat itu dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP) belum difinalkan.
"Kali ini kita lakukan dengan SOP yang dokumennya sudah dikukuhkan," jelas Ester sapaan akrabnya.
Menurut dia, simulasi kali ini digunakan untuk menguji sejauh mana masyarakat memahami sistem peringatan dini, rambu evakuasi dan titik kumpul yang telah dipasang di setiap RT.
"Jadi hari ini kita menguji kapasitas masyarakat untuk bagaimana mereka mengenal rambu-rambu evakuasi dan juga titik kumpul yang sudah kita pasang di setiap RT, supaya jika terjadi erupsi Gunung Lewotobi terjadi, mereka sudah tahu arah dan jalur evakuasi dan titik kumpul yang sudah ditentukan," ujarnya.
Ia juga mengatakan, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab KSB. Pemahaman mengenai ancaman bencana perlu dimiliki masyarakat secara lebih luas sehingga informasi dan tindakan ketika terjadi erupsi tidak berbeda-beda.
Koordinasi dengan sejumlah pihak, kata dia, telah dilakukan sejak program tersebut berjalan pada 2024, termasuk dengan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) dan dinas terkait.
Kesiapan warga menjadi perhatian karena Kecamatan Wulanggitang berada di wilayah yang berhadapan langsung dengan aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki.
Camat Wulanggitang, Karolus Kelemur, mengatakan pengalaman erupsi sebelumnya menunjukkan pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi situasi yang tidak dapat dipastikan waktunya.
"Yang bisa dipastikan adalah kesiapan kita dalam menghadapinya, sehingga simulasi yang kita laksanakan hari ini bukan sekedar agenda seremonial atau latihan biasa ini adalah bagian dari komitmen untuk menyelamatkan nyawa banyak orang melalui simulasi Early Warning System (EWS)," kata Karolus.
"Kita melatih kepekaan, menyamakan persepsi dan juga memantapkan prosedur evakuasi. Kita ingin memastikan bahwa ketika tanda bahaya berbunyi setiap keluarga mulai dari anak-anak, orang tua hingga kelompok rentan sudah tahu persis apa yang harus dilakukan," sambungnya.
Menurutnya, keberhasilan mitigasi bencana sangat bergantung pada kecepatan komunikasi, koordinasi antarpihak, serta kepatuhan masyarakat terhadap informasi resmi dari otoritas yang berwenang, termasuk PGA dan BPBD.
Karolus meminta warga mengikuti simulasi secara serius. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi dan prosedur penyelamatan, kata dia, tidak berhenti pada kegiatan di desa, tetapi perlu diteruskan ke keluarga masing-masing.
Di Desa Boru sendiri, kesiapsiagaan menghadapi erupsi telah menjadi bagian dari upaya pemerintah desa bersama masyarakat.
Kepala Desa Boru, Alfons Kelasa Soge, mengatakan simulasi tersebut merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesiapsiagaan menghadapi ancaman Gunung Lewotobi Laki-laki.
"Masyarakat perlu memahami dengan baik sistem mitigasi dan bisa mengambil langkah-langkah tepat apabila situasi bencana benar-benar terjadi," kata Alfons.
Pemerintah Desa Boru, lanjutnya, juga terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung.
"Kita ada grup, jadi semua peristiwa itu bisa kita saling berbagi informasi dan tersambung melalui group WhatsApp," pungkasnya.
Editor: Sefnat Besie