get app
inews
Aa Text
Read Next : Kabar Gembira! Presiden Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Konversi Motor Listrik dan PLTS

Kisah Perempuan Pelestari Batik Tulis di Tengah Transisi Energi

Senin, 31 Agustus 2026 | 22:29 WIB
header img
Pita Shona, (30) pembatik pembatik yang masih pertahankan keaslian batik tulis saat meniup ujung cucuk canting sebelum membatik. (Foto: iNewsTTU.id/Sefnat Besie)

Pendamping UMKM Bagian CSR SMEPP Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus mengatakan, selain membantu membuka akses pasar, perkembangan Batik Olive juga berdampak terhadap masyarakat sekitar.

"Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam usaha tersebut terus bertambah,"kata Pendamping UMKM dari Pertamina.

Prina mengatakan, pada awalnya Ahmad Irawan hanya mempekerjakan sekitar enam orang. Kini jumlah pekerjanya telah berkembang menjadi hampir 15 orang.

“Bapaknya ini awalnya cuma sekitar enam orang. Sekarang sudah hampir 15 orang,” katanya.

Para pekerja tersebut sebagian besar merupakan warga yang tinggal di sekitar lokasi usaha Batik Olive.

Dengan demikian, keberadaan usaha ini turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

“Warga sini semua. Jadi pekerjanya yang tinggal di sekitar sini, tidak dari jauh,” ujar Prina.

Tidak berhenti pada produksi dan pemasaran, proses pengembangan batik di Batik Olive juga terus dilakukan. Para pekerja bahkan didorong untuk mengeksplorasi berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber warna alami.

Menurut Prina, apabila ada pekerja menemukan tanaman yang dianggap memiliki potensi menghasilkan warna unik, tanaman tersebut dapat diuji dan dikembangkan untuk kebutuhan pewarnaan batik.

“Kalau teman-teman ini menemukan tanaman yang aneh untuk bisa dijadikan warna, itu bisa. Jadi selalu ada eksplorasi,” katanya.

Dari usaha yang sempat berada di ambang kolaps, Batik Olive perlahan kembali bangkit.

Kepada iNewsTTU di gerai batiknya, Ahmad Irawan menceritaan, dukungan dari Pertamina patra Niaga sangat membantu mengangkatnya dari ancaman keterpurukan usaha.
 


Amad Irawan, Pemilik Gerai Bati tulis Olive. (Foto: iNewsTTU.id/Sefnat Besie)

 


Baginya Pertamina tidak saja terpaku pada menyalurkan BBM dari kilang hingga SPBU dan konsumen namun ada fleksibilitas untuk menciptakan solusi baginya sebagai pelaku UMKM bahkan rela mendorong keberlanjutan.

Ia mengatakan, perjalanan usahanya yang sempat mengalami tekanan berat saat pandemi Covid-19.

Di tengah aktivitas bisnis yang nyaris terhenti, dukungan pembiayaan dari Pertamina menjadi salah satu penopang agar usahanya tetap bertahan.

Ahmad mengatakan, pada masa pandemi, bantuan pembiayaan yang diterimanya digunakan untuk menjaga keberlangsungan usaha, terutama memenuhi kebutuhan operasional dan membayar karyawan.

“Awalnya untuk backup waktu Covid itu. Waktu Covid tidak ada aktivitas bisnis. Jadi dari pinjaman itu kita bisa bayar karyawan, bisa mencicil kewajiban-kewajiban,” ujar Ahmad.

Menurutnya, pembiayaan tersebut diberikan dalam dua tahap, masing-masing sekitar Rp100 juta.

Dana itu berbentuk pinjaman dengan jaminan sertifikat dan seluruh kewajibannya kini telah diselesaikan.

“Pertama Rp100 juta, kedua Rp100 juta. Itu pinjaman, Sudah dikembalikan, sudah lunas,” katanya.

Pandemi juga berdampak terhadap omzet Batik Olive. Jika sebelumnya omzet usaha berada di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan, kini angkanya mengalami penurunan.

“Dulu Rp200 sampai Rp300 jutaan per bulan. Sekarang maksimal sekitar Rp140 juta,” ungkap Ahmad.

Ahmad mengaku, sejak dibiayai oleh Pertamina, kondisi usaha dan ekonomi usahanya terus berkembang hingga saat ini sejak tahun 2020.

Menurutnya, Batik Olive sebenarnya memiliki kesiapan dari sisi tenaga kerja maupun sumber daya untuk meningkatkan produksi.

“Harapannya situasi ekonomi bisa stabil lagi. Kalau ekonomi bagus, kita bisa push untuk produksi lebih banyak lagi karena tenaga kerja dan sumber daya semuanya siap,” jelasnya.

 

Batik Tulis Olive Beradaptasi dengan tantangan Dunia Luar

 

Ahmad menyebut produknya pernah mengikuti pameran di sejumlah negara dan dari kegiatan tersebut mendapatkan pesanan dari pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Jerman hingga Rusia.

“Kita pameran di sana, habis itu dapat order,” ujarnya.

Terkait karakteristik produknya, Ahmad memilih untuk tidak terlalu mengklaim keunggulan secara berlebihan.

 Ia mengatakan, ciri khas Batik Olive justru terbentuk secara alami melalui desain dan pewarnaan yang menjadi perhatian pelanggan.

“Saya tidak mau melebih-lebihkan. Kita membuat itu mengalir saja. Tetapi beberapa customer melihat ciri khas saya seperti ini, bisa dilihat dari pewarnaannya dan desainnya,” katanya.

Dalam proses produksinya, Batik Olive menggunakan dua jenis pewarna, yakni pewarna alami dan pewarna sintetis.

Produk yang dihasilkan pun tidak hanya berupa kain batik, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai jenis pakaian.

“Kita ada dua, warna alam dan warna sintetis. Kita jual kain, jadi baju, jadi dress,” pungkas Ahmad.

Tak terasa sore itu, matahari mulai condong ke arah barat ketika perbincangan dengan pemilik Batik Olive, Ahmad Irawan, berlangsung. Saya pun bersiap untuk kembali ke Kupang, NTT.

Sambil bercerita, Ahmad berjalan sambil memastikan perempuan pewaris batik tulis menyelesaikan kain terisi motif batik tulis.

Perbincangan tentang perjalanan Batik Olive terus mengalir, bersamaan dengan suara kecil aktivitas para pembatik.

Senja semakin dekat, namun pekerjaan mereka belum benar-benar usai, selembar kain batik tulis itu masih membutuhkan sentuhan terakhir sebelum dinyatakan selesai.

Meski terlihat  lelah, namun itulah kisah cerita, pekerjaan, identitas, dan warisan yang terus dihidupkan.

Di tengah Kota Batu yang dikenal sebagai destinasi wisata, sederet kisah perjuangan usaha Batik Olive yang terus berubah menciptakan inovasi dan solusi demi mendorong keberlanjutan usahanya dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.

 

 

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut