Kisah Perempuan Pelestari Batik Tulis di Tengah Transisi Energi
BATU, iNewsTTU.id--Pita Shona meniup ujung cucuk canting untuk memastikan lubang kecilnya tidak tersumbat oleh gumpalan malam atau lilin batik yang mulai mengental.
Seiring tiupan canting, tangannya yang menggengam canting bergerak perlahan menggoreskan warna di atas selembar kain putih yang sudah berbentuk pola bunga, ujung canting terus menari di atas kain membentuk motif.
Dinginnya suhu kota Batu sore itu tercatat 14 derajat Celsius, membuat cairan malam hampir membeku.
Di depan pandopo berukuran 3x3 meter, Pita Shona perempuan muda berusia 30 tahun ditemani tiga perempuan lainnya, yakni Mistiah (50), Fitri (46), dan Muslimah (40). Tak jauh dari mereka berempat, ada juga Ahmad Irawan.
Keempat perempuan tersebut merupakan pembatik tulis di rumah Batik Olive yang berada di Jalan Imam Bonjol Nomor 76-78, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, sedangkan Ahmad adalah pemilik batik.
Sore itu, Rabu (19/8/2026), iNewsTTU berkesempatan meyambangi gerai batik tulis di kota Batu dengan menyusuri jalan menurun sekitar 100 meter dari jalan utama sebelum berbelok ke kiri.
Tak jauh dari jalan utama, terlihat sebuah bangunan berukuran sederhana yang menjadi tempat para pembatik Batik Olive bekerja dan menghasilkan karya.
Di sisi selatan bangunan, empat perempuan duduk berdampingan. Tak banyak percakapan terdengar.
Mereka lebih sibuk dengan kain yang terbentang di hadapan masing-masing.
Jari-jemari terus bergerak, sesekali meniup ujung canting yang hampir membeku akibat cuaca yang dingin, lalu kembali menorehkan guratan mengikuti pola yang telah dibuat.
"Butuh waktu bikin batik tulis satu lembar batik tulis penuh, misalnya, dapat membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk diselesaikan,"ungkap Pita perempuan berbaju hitam.
Pita mengatakan, setelah proses mencanting selesai, kain kemudian masuk ke tahap pewarnaan. Kain dicelup atau diberi warna sesuai desain yang diinginkan.
Jika menggunakan beberapa warna, proses pemberian malam dan pewarnaan dapat dilakukan berulang kali.
Bagian-bagian tertentu kembali ditutup dengan malam sebelum kain diberi warna berikutnya.
Pita, Mistiah, Fitri, dan Muslimah hanyalah empat dari sejumlah karyawan yang bekerja di Rumah Batik Olive.
Siapa sangka, di tangan merekalah, batik tulis masih diwarisi, perempuan muda ini ingin mewujudkan keyakinan dan terus menularkan ilmu hingga anak cucu nanti dengan berbagai perubahan.
Setelah seluruh warna dan motif selesai, kain memasuki tahap pelorodan, yakni menghilangkan malam atau lilin batik dari permukaan kain dengan cara merebus.
Pada tahap ini, Batik Olive pernah menggunakan pemanasan menggunakan kayu bakar, namun cara ini terasa sangat tradisional dan mudah dilakukan, terutama ketika kayu bakar masih mudah diperoleh.
"Seiring waktu, sumber panas kemudian beralih ke minyak tanah. Penggunaan kompor minyak membuat api lebih mudah dikendalikan dibandingkan kayu bakar,"kata Pita.

Namun, minyak tanah juga memiliki kekurangan. Kompor membutuhkan bahan bakar yang harus disimpan dan diisi secara berkala, sementara asap dan bau dari pembakaran tetap menjadi bagian dari aktivitas membatik.
Selain itu, ketersediaan minyak tanah di sejumlah daerah semakin terbatas sehingga penggunaannya tidak lagi sepraktis masa lalu.
Peralihan ini membuat proses pemanasan malam menjadi lebih ringkas. Api kompor gas dapat diatur dengan mudah, panas relatif stabil dan tidak menghasilkan abu seperti kayu bakar.
"Kompor gas juga lebih praktis digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan nyala api dalam waktu lama,"tambahnya.
Perjalanan dari kayu bakar, minyak tanah hingga Bright Gas itu pun menjadi gambaran kecil bagaimana usaha batik tulis beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Setelah proses peluruhan kain, selanjutnya malam yang meleleh akan terlepas, sehingga motif batik yang sebelumnya tertutup mulai terlihat dengan jelas.
Kain kemudian dicuci dan dikeringkan, lalu dirapikan melalui proses akhir seperti pengeringan dan penyetrikaan.
Setelah seluruh tahapan selesai, barulah kain tersebut menjadi kain batik tulis yang siap digunakan sebagai bahan pakaian, kain sarung, atau berbagai produk kerajinan.

Ribuan bahkan jutaan lembar kain hasil batik tulis ini kemudian dipajang dalam gerai batik Olive, ada yang sudah dipesan bahkan sebagain dipajang untuk menanti pembeli.
Kehadiran batik tulis Olive di Kota baru tidak saja memberi dampak ekonomi bagi sejumlah pekerja namun memberikan ruang edukasi bagi wisatawan.
Bertahan sebagai pelaku UMKM batik tulis, Batik Olive memikat wisatawan melalui keunikan motif floranya yang mengangkat ikon lokal seperti buah apel dan stroberi.
Sesuai catatan akhir tahun 2025 lalu para wisatawan diberikan pengalaman membatik langsung di atas kain mulai dari wisatawan mancanegara, rombongan kedinasan, wisatawan keluarga dan rombongan pendidikan.

Kunjungan serupa berlangsung pada tahun berikutnya atau sekira pertengahan bulan Agustus 2026, para wisatawan ini berkesempatan memberi warna pada kain batik.
"Selama ini kami hanya liat di tivi saja tapi hari ini langsung praktek dan ini hasilnya," kata dewa sambil menunjukkan hasil pewarnaan batiknya.
Dewa pun mengagumi empat perempuan yang begitu tekun dan sabar membuat batik tulis. Satu helai batik tulis bisa diselesaikan dalam waktu 4 hingga 6 jam dan butuh kesabaran.
Pengalaman membatik dari tangan tangan pemula maupun tangan tangan terlatih seperti Pita Shona, (30) Mistiah (50), Fitri (46), dan Muslimah (40) menjadi ujung tombak Batik Olive tetap bertahan di tengah gempuran batik cap.
Meski di tengah hiruk-pikuk kota wisata, mereka memilih merawat tradisi batik tulis dan terus berinovasi di atas selembar kain. Pembatik ini mempertahankan warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga mereka.
Sejak awal tahun 2000, Ahmad Irawan banting setir dari pekerjaannya sebagai akuntan di perusahaan besar dan memilih untuk mendirikan toko kecil dengan menjual pakaian batik.
Rumah tinggalnya yang sederhana ia alihfungsikan menjadi menjadi toko batik.
Usahanya terus berkembang hingga mempekerjakan warga yang memiliki keahlian membatik.
Namun rupanya tak berjalan mulus sesuai harapan, selama 10 bertahan dengan modal yang pas pasan, usahanya terancam kolaps akibat hantaman covid 19.
Ahmad menceritakan, saat itu Penjualan dan omzet anjlok, permintaan batik turun tajam karena masyarakat mengurangi belanja
Bahkan produksi ikut menurun karena barang sulit terjual, pemasaran dan distribusi terganggu, pembatasan mobilitas membuat konsumen dari luar daerah sulit datang dan pengiriman barang juga terkendala.
Ia menambahkan, modal usaha tergerus ketika penjualan turun, uang yang biasanya berputar untuk membeli bahan dan membiayai produksi ikut berkurang.
"Nasib perajin dan karyawan ikut terdampak Ketika produksi berkurang, ada pekerja yang dirumahkan, diberhentikan, bahkan beralih profesi untuk bertahan hidup,"kisahnya.
Ia mengatakan, perjalanan usahanya yang sempat mengalami tekanan berat saat pandemi Covid-19.
Di tengah aktivitas bisnis yang nyaris terhenti, dukungan pembiayaan dari Pertamina menjadi salah satu penopang hingga ia bertahan dan terus berkembang hingga saat ini.
Perjalanan Batik Olive tidak selalu berjalan mulus. Di balik berkembangnya produk batik tulis, usaha yang dirintis Ahmad Irawan itu pernah berada dalam kondisi sulit dan hampir kolaps.
Di tengah kondisi sulit tersebut, Pertamina Patra Niaga hadir dan merangkul Ahmad yang usahanya berjalan tertatih tatih agar usaha batik tidak jatuh hingga terseret.
Melalui program pembinaan yang terstruktur, Pertamina Patra Niaga hadir memberikan topangan nyata bagi kebangkitan usaha ini.
Prina Widya, pendamping Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP) Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalimus), menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan secara komprehensif dan bertahap.
"Awalnya ada suntikan dana hingga mulai bangkit, dan secara bertahap kita dorong produk batik tulis naik kelas ke pasar yang lebih luas," ujar Prina.
Komitmen tersebut kini mulai menampakkan hasil yang manis. Skala usaha yang dulunya terbatas kini perlahan menembus batas teritorial yang lebih besar berkat arahan strategis dari para pendamping.
"Sudah mulai dapat bayaran juga, meskipun skalanya masih lokal. Dari penjualan lokal kita tarik ke pasar nasional, kemudian sekarang sudah mulai merambah ke pasar internasional," pungkas Prina saat meninjau langsung lokasi dampingan Batik Olive.
Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Batik Olive terus beradaptasi, tidak hanya mampu mempertahankan produksi dan penjualan di dalam negeri, tetapi juga menerima tantangan dan mulai mengikuti berbagai pameran di luar negeri.
Prina menyebut produk Batik Olive telah dibawa dalam pameran hingga sejumlah negara, di antaranya Belanda, Korea Selatan, Swedia dan beberapa negara lainnya.
“Bapaknya sudah sampai ke Belanda, Korea, Swedia dan beberapa negara lain. Itu melalui pameran, dan kebetulan mendapatkan pembeli juga di sana,” katanya.
Menariknya, pesanan tersebut bukan hanya datang dari warga Indonesia yang berada di luar negeri. Dalam sejumlah pameran, produk Batik Olive juga mendapat perhatian langsung dari masyarakat setempat.
“Orang Swedia asli,” ujar Prina ketika menjelaskan salah satu pembeli produk Batik Olive di luar negeri.
Menurut Prina, salah satu kekuatan Batik Olive terletak pada karakter motif dan pewarnaannya yang berbeda. Produk tersebut tidak sekadar mengandalkan pola batik konvensional, tetapi juga mengangkat kekayaan flora yang ada di wilayah Malang dan Batu.
“Karena hasilnya berbeda. Tidak semuanya hanya dibuat seperti itu. Biasanya dia menulis, kemudian hasilnya seperti bunga, pohon, tanaman, pokoknya flora,” jelasnya.
Pendamping UMKM Bagian CSR SMEPP Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus mengatakan, selain membantu membuka akses pasar, perkembangan Batik Olive juga berdampak terhadap masyarakat sekitar.
"Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam usaha tersebut terus bertambah,"kata Pendamping UMKM dari Pertamina.
Prina mengatakan, pada awalnya Ahmad Irawan hanya mempekerjakan sekitar enam orang. Kini jumlah pekerjanya telah berkembang menjadi hampir 15 orang.
“Bapaknya ini awalnya cuma sekitar enam orang. Sekarang sudah hampir 15 orang,” katanya.
Para pekerja tersebut sebagian besar merupakan warga yang tinggal di sekitar lokasi usaha Batik Olive.
Dengan demikian, keberadaan usaha ini turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
“Warga sini semua. Jadi pekerjanya yang tinggal di sekitar sini, tidak dari jauh,” ujar Prina.
Tidak berhenti pada produksi dan pemasaran, proses pengembangan batik di Batik Olive juga terus dilakukan. Para pekerja bahkan didorong untuk mengeksplorasi berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber warna alami.
Menurut Prina, apabila ada pekerja menemukan tanaman yang dianggap memiliki potensi menghasilkan warna unik, tanaman tersebut dapat diuji dan dikembangkan untuk kebutuhan pewarnaan batik.
“Kalau teman-teman ini menemukan tanaman yang aneh untuk bisa dijadikan warna, itu bisa. Jadi selalu ada eksplorasi,” katanya.
Dari usaha yang sempat berada di ambang kolaps, Batik Olive perlahan kembali bangkit.
Kepada iNewsTTU di gerai batiknya, Ahmad Irawan menceritaan, dukungan dari Pertamina patra Niaga sangat membantu mengangkatnya dari ancaman keterpurukan usaha.

Baginya Pertamina tidak saja terpaku pada menyalurkan BBM dari kilang hingga SPBU dan konsumen namun ada fleksibilitas untuk menciptakan solusi baginya sebagai pelaku UMKM bahkan rela mendorong keberlanjutan.
Ia mengatakan, perjalanan usahanya yang sempat mengalami tekanan berat saat pandemi Covid-19.
Di tengah aktivitas bisnis yang nyaris terhenti, dukungan pembiayaan dari Pertamina menjadi salah satu penopang agar usahanya tetap bertahan.
Ahmad mengatakan, pada masa pandemi, bantuan pembiayaan yang diterimanya digunakan untuk menjaga keberlangsungan usaha, terutama memenuhi kebutuhan operasional dan membayar karyawan.
“Awalnya untuk backup waktu Covid itu. Waktu Covid tidak ada aktivitas bisnis. Jadi dari pinjaman itu kita bisa bayar karyawan, bisa mencicil kewajiban-kewajiban,” ujar Ahmad.
Menurutnya, pembiayaan tersebut diberikan dalam dua tahap, masing-masing sekitar Rp100 juta.
Dana itu berbentuk pinjaman dengan jaminan sertifikat dan seluruh kewajibannya kini telah diselesaikan.
“Pertama Rp100 juta, kedua Rp100 juta. Itu pinjaman, Sudah dikembalikan, sudah lunas,” katanya.
Pandemi juga berdampak terhadap omzet Batik Olive. Jika sebelumnya omzet usaha berada di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan, kini angkanya mengalami penurunan.
“Dulu Rp200 sampai Rp300 jutaan per bulan. Sekarang maksimal sekitar Rp140 juta,” ungkap Ahmad.
Ahmad mengaku, sejak dibiayai oleh Pertamina, kondisi usaha dan ekonomi usahanya terus berkembang hingga saat ini sejak tahun 2020.
Menurutnya, Batik Olive sebenarnya memiliki kesiapan dari sisi tenaga kerja maupun sumber daya untuk meningkatkan produksi.
“Harapannya situasi ekonomi bisa stabil lagi. Kalau ekonomi bagus, kita bisa push untuk produksi lebih banyak lagi karena tenaga kerja dan sumber daya semuanya siap,” jelasnya.
Ahmad menyebut produknya pernah mengikuti pameran di sejumlah negara dan dari kegiatan tersebut mendapatkan pesanan dari pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Jerman hingga Rusia.
“Kita pameran di sana, habis itu dapat order,” ujarnya.
Terkait karakteristik produknya, Ahmad memilih untuk tidak terlalu mengklaim keunggulan secara berlebihan.
Ia mengatakan, ciri khas Batik Olive justru terbentuk secara alami melalui desain dan pewarnaan yang menjadi perhatian pelanggan.
“Saya tidak mau melebih-lebihkan. Kita membuat itu mengalir saja. Tetapi beberapa customer melihat ciri khas saya seperti ini, bisa dilihat dari pewarnaannya dan desainnya,” katanya.
Dalam proses produksinya, Batik Olive menggunakan dua jenis pewarna, yakni pewarna alami dan pewarna sintetis.
Produk yang dihasilkan pun tidak hanya berupa kain batik, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai jenis pakaian.
“Kita ada dua, warna alam dan warna sintetis. Kita jual kain, jadi baju, jadi dress,” pungkas Ahmad.
Tak terasa sore itu, matahari mulai condong ke arah barat ketika perbincangan dengan pemilik Batik Olive, Ahmad Irawan, berlangsung. Saya pun bersiap untuk kembali ke Kupang, NTT.
Sambil bercerita, Ahmad berjalan sambil memastikan perempuan pewaris batik tulis menyelesaikan kain terisi motif batik tulis.
Perbincangan tentang perjalanan Batik Olive terus mengalir, bersamaan dengan suara kecil aktivitas para pembatik.
Senja semakin dekat, namun pekerjaan mereka belum benar-benar usai, selembar kain batik tulis itu masih membutuhkan sentuhan terakhir sebelum dinyatakan selesai.
Meski terlihat lelah, namun itulah kisah cerita, pekerjaan, identitas, dan warisan yang terus dihidupkan.
Di tengah Kota Batu yang dikenal sebagai destinasi wisata, sederet kisah perjuangan usaha Batik Olive yang terus berubah menciptakan inovasi dan solusi demi mendorong keberlanjutan usahanya dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Editor : Sefnat Besie