get app
inews
Aa Text
Read Next : Kabar Gembira! Presiden Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Konversi Motor Listrik dan PLTS

Kisah Perempuan Pelestari Batik Tulis di Tengah Transisi Energi

Senin, 31 Agustus 2026 | 22:29 WIB
header img
Pita Shona, (30) pembatik pembatik yang masih pertahankan keaslian batik tulis saat meniup ujung cucuk canting sebelum membatik. (Foto: iNewsTTU.id/Sefnat Besie)

Ia menambahkan, modal usaha tergerus ketika penjualan turun, uang yang biasanya berputar untuk membeli bahan dan membiayai produksi ikut berkurang.

"Nasib perajin dan karyawan ikut terdampak Ketika produksi berkurang, ada pekerja yang dirumahkan, diberhentikan, bahkan beralih profesi untuk bertahan hidup,"kisahnya.

Ia mengatakan, perjalanan usahanya yang sempat mengalami tekanan berat saat pandemi Covid-19.

Di tengah aktivitas bisnis yang nyaris terhenti, dukungan pembiayaan dari Pertamina menjadi salah satu penopang hingga ia bertahan dan terus berkembang hingga saat ini.


Pertamina Hadir Bawa Solusi


Perjalanan Batik Olive tidak selalu berjalan mulus. Di balik berkembangnya produk batik tulis, usaha yang dirintis Ahmad Irawan itu pernah berada dalam kondisi sulit dan hampir kolaps.

Di tengah kondisi sulit tersebut, Pertamina Patra Niaga hadir dan merangkul Ahmad yang usahanya berjalan tertatih tatih agar usaha batik tidak jatuh hingga terseret.

Melalui program pembinaan yang terstruktur, Pertamina Patra Niaga hadir memberikan topangan nyata bagi kebangkitan usaha ini.

Prina Widya, pendamping Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP) Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalimus), menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan secara komprehensif dan bertahap.

"Awalnya ada suntikan dana hingga mulai bangkit, dan secara bertahap kita dorong produk batik tulis naik kelas ke pasar yang lebih luas," ujar Prina.

Komitmen tersebut kini mulai menampakkan hasil yang manis. Skala usaha yang dulunya terbatas kini perlahan menembus batas teritorial yang lebih besar berkat arahan strategis dari para pendamping.

"Sudah mulai dapat bayaran juga, meskipun skalanya masih lokal. Dari penjualan lokal kita tarik ke pasar nasional, kemudian sekarang sudah mulai merambah ke pasar internasional," pungkas Prina saat meninjau langsung lokasi dampingan Batik Olive.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Batik Olive terus beradaptasi, tidak hanya mampu mempertahankan produksi dan penjualan di dalam negeri, tetapi juga menerima tantangan dan mulai mengikuti berbagai pameran di luar negeri.

Prina menyebut produk Batik Olive telah dibawa dalam pameran hingga sejumlah negara, di antaranya Belanda, Korea Selatan, Swedia dan beberapa negara lainnya.

“Bapaknya sudah sampai ke Belanda, Korea, Swedia dan beberapa negara lain. Itu melalui pameran, dan kebetulan mendapatkan pembeli juga di sana,” katanya.

Menariknya, pesanan tersebut bukan hanya datang dari warga Indonesia yang berada di luar negeri. Dalam sejumlah pameran, produk Batik Olive juga mendapat perhatian langsung dari masyarakat setempat.

“Orang Swedia asli,” ujar Prina ketika menjelaskan salah satu pembeli produk Batik Olive di luar negeri.

Menurut Prina, salah satu kekuatan Batik Olive terletak pada karakter motif dan pewarnaannya yang berbeda. Produk tersebut tidak sekadar mengandalkan pola batik konvensional, tetapi juga mengangkat kekayaan flora yang ada di wilayah Malang dan Batu.

“Karena hasilnya berbeda. Tidak semuanya hanya dibuat seperti itu. Biasanya dia menulis, kemudian hasilnya seperti bunga, pohon, tanaman, pokoknya flora,” jelasnya.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut