TTU Bidik Daya Beli Warga Timor Leste, Pasar Perbatasan Napan akan Dihidupkan Kembali
KEFAMENANU, iNewsTTU.id – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur melalui Staf Khusus Bupati TTU Bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif, Fahmi H. Abdullahi, menggagas kebangkitan kembali Pasar Perbatasan Napan di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, yang beberapa tahun terakhir tidak lagi beroperasi.
Menurut Fahmi, rencana tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat perbatasan dengan memanfaatkan tingginya daya beli masyarakat Distrik Oecusse, Timor-Leste, yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
"Ini adalah peluang yang harus kita manfaatkan. Dengan menguatnya nilai tukar dolar, daya beli masyarakat di Oecusse juga meningkat. Karena itu kita ingin menghidupkan kembali pasar perbatasan sebagai ruang transaksi ekonomi yang saling menguntungkan," kata Fahmi ditemui di Puangamo coffee, Jumat, 17/7/2026.
Ia menjelaskan, konsep awal yang akan dikembangkan adalah menjadikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai ujung tombak kegiatan pasar.
Berdasarkan hasil kunjungannya ke kawasan perbatasan, Fahmi menilai kuliner di wilayah Oecusse masih belum beragam, sehingga produk kuliner khas TTU dinilai memiliki peluang besar untuk menarik pengunjung dari negara tetangga.
"Kita memiliki kekuatan pada kuliner dan ekonomi kreatif. Itu yang akan kita bawa ke pasar perbatasan agar masyarakat Timor-Leste datang berbelanja di wilayah kita," ujar ketua Ketua Jaringan Pengusaha Nasional NTT.
Fahmi mengatakan, pasar perbatasan direncanakan digelar satu kali setiap bulan pada tahap awal. Frekuensi penyelenggaraan akan ditingkatkan menjadi dua pekan sekali bahkan setiap minggu apabila hasil evaluasi menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Untuk merealisasikan program tersebut, tim Staf Khusus Bupati akan melakukan kajian serta menjalin koordinasi dengan pengelola Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Napan dan otoritas Timor-Leste.
"Dalam waktu dekat, tim juga berencana melakukan kunjungan ke Oecusse guna membahas mekanisme kerja sama penyelenggaraan pasar,"ujarnya.
Pada tahap awal, kegiatan akan difokuskan pada sektor UMKM, khususnya kuliner dan produk ekonomi kreatif. Selain itu, pihaknya juga berencana melibatkan perbankan maupun layanan penukaran uang (money changer) agar masyarakat Timor-Leste dapat menukarkan dolar ke rupiah sebelum berbelanja di pasar perbatasan.
"Kita ingin sebelum akhir tahun ini konsep tersebut sudah bisa diwujudkan dan diresmikan langsung oleh Bupati TTU bersama otoritas Timor-Leste," katanya.
Fahmi menegaskan seluruh aktivitas perdagangan nantinya akan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku di kedua negara. Komoditas yang dilarang diperdagangkan lintas batas, seperti barang bersubsidi, tidak akan menjadi bagian dari pasar tersebut.
Lebih jauh, ia berharap pengembangan pasar perbatasan dapat menjadi langkah awal menuju terbentuknya kawasan ekonomi khusus atau zona ekonomi bebas di wilayah perbatasan TTU, Belu, dan Malaka yang berbatasan dengan Timor-Leste.
"Target jangka panjangnya adalah kawasan perbatasan ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara," ujarnya.
Fahmi juga mengajak seluruh pelaku UMKM di TTU mulai mempersiapkan diri dengan menghadirkan produk berkualitas, terutama kuliner yang bersih, higienis, dan memiliki cita rasa khas, agar mampu bersaing dan menarik minat konsumen dari Timor-Leste.
"Pelaku UMKM harus menangkap peluang ini. Berikan produk terbaik dan jangan mudah menyerah karena membangun pasar membutuhkan proses dan konsistensi," pungkasnya.
Editor : Sefnat Besie