get app
inews
Aa Text
Read Next : Diduga Alami Intimidasi hingga Depresi, Dokter RS Leona TTU Dikabarkan Meninggal Dunia

Rumah Duka Dokter Icha Dipadati Pelayat, Dugaan Intimidasi dari 3 Oknum DPRD TTU Jadi Perbincangan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:41 WIB
header img
Pelayat di rumah almarhumah dokter Icha Pakaenoni.( Foto istimewa).

KUPANG, iNewsTTU.id – Rumah duka almarhumah dr. Icha di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dipadati pelayat pada Jumat (26/6/2026) malam. 

Kepergian dokter yang bertugas di IGD Rumah Sakit Leona Kefamenanu itu mengejutkan publik, terlebih karena sebelumnya ia dikabarkan mengalami tekanan psikis dari keluarga setelah menangani seorang pasien korban gigitan ular.

Terdengar Perbincangan pelayat yang menyebut korban Depresi akibat tekanan psikis dari keluarga korban yang dialami oleh dokter Icha. 

Kabar meninggalnya dr. Icha dibenarkan oleh paman kandungnya, Viktor Manbait. Menurut keluarga, sebelum meninggal dunia, dr. Icha sempat mengalami depresi dan kondisi kesehatannya terus menurun hingga menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Kupang.

Peristiwa yang diduga menjadi pemicu tekanan psikis tersebut bermula saat dr. Icha menangani seorang pasien korban gigitan ular di IGD RS Leona Kefamenanu.

Saat menerima pasien, dr. Icha bersama tim medis melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter spesialis sesuai standar operasional prosedur (SOP). 

Dari hasil pemeriksaan dan konsultasi tersebut, pasien belum direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin maupun serum anti bisa ular tertentu. Selain itu, RS Leona juga tidak memiliki stok anti venom yang diminta pihak keluarga pasien.

Penjelasan medis itu diduga tidak diterima oleh keluarga pasien. Salah seorang anggota keluarga kemudian berbicara dengan nada tinggi dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU. Tak lama kemudian, seorang pria lainnya masuk ke ruang IGD dan turut menyampaikan protes dengan nada keras.

Berdasarkan informasi yang diterima media, pria tersebut mengaku sebagai anggota DPRD Komisi III Kabupaten TTU, Norbertus Tubani. Selain itu, terdapat pula anggota DPRD lainnya, Therensius Lazakar, serta seorang anggota DPRD Perempuan berinisial VL yang berada di lokasi saat kejadian.

Di tengah situasi tersebut, dr. Icha tetap berupaya menjelaskan kondisi pasien dan alasan medis atas tindakan yang diambil. Namun, penjelasan tersebut disebut tidak diterima sehingga dokter yang sedang bertugas itu merasa tertekan dan bahkan menangis.

Pasien korban gigitan ular tersebut kemudian menjalani perawatan di RS Leona hingga Senin, 16 Juni 2026. Pada pagi harinya, pihak keluarga meminta pasien dipulangkan dari rumah sakit. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa kondisi pasien saat ini telah sehat.

Sejumlah rekan dan keluarga menyebut, pasca-peristiwa tersebut dr. Icha mengalami tekanan psikis dan depresi hingga kondisi kesehatannya menurun sebelum akhirnya meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026).

DPRD TTU Bantah Lakukan Intimidasi

Sementara itu, dua anggota DPRD Kabupaten TTU, Norbertus Tubani dan Therensius Lazakar, membantah tudingan bahwa mereka melakukan intimidasi terhadap dr. Icha.

"Tidak ada sedikit pun niat untuk mengintimidasi tenaga medis," kata Therensius Lazakar.

Ia menegaskan tidak ada kata-kata makian maupun instruksi kepada dokter untuk menyuntikkan anti venom. Menurutnya, mereka hanya berupaya meminta penjelasan mengenai prosedur penanganan terhadap anggota keluarga mereka yang menjadi korban gigitan ular.

Therensius menjelaskan, peristiwa bermula ketika keponakannya dipagut ular hijau. Karena panik, keluarga membawa pasien ke RSUD Kefamenanu pada Sabtu, 13 Juni 2026, sekitar pukul 12.50 WITA untuk mendapatkan penanganan medis.

Di RSUD Kefamenanu, tenaga medis menjelaskan bahwa pasien harus diobservasi terlebih dahulu sebelum diberikan suntikan anti bisa ular. Setelah menjalani penanganan selama kurang lebih lima jam, pasien kemudian dirujuk ke RS Leona karena tidak tersedia dokter bedah dan stok anti venom di RSUD Kefamenanu.

Sekitar pukul 19.00 WITA, Therensius dan Norbertus mendatangi pasien di RS Leona untuk memastikan kondisinya. Hingga sekitar pukul 21.00 WITA, keluarga mengaku belum melihat adanya penanganan lanjutan sehingga mereka semakin cemas.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujar Therensius.

Menurut mereka, situasi baru mereda setelah Dokter Nur menjelaskan hasil pemeriksaan darah pasien dan menyampaikan bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular serta serum anti bisa ular memang tidak tersedia di rumah sakit swasta tersebut.

"Penjelasan ini yang kami butuhkan supaya kami tidak panik," ujarnya.

Norbertus Tubani juga menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengintimidasi dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya. Setelah menerima penjelasan dari dokter, mereka mengaku menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit, termasuk kepada dr. Icha dan seluruh tenaga medis yang bertugas di IGD.

Hingga kini, meninggalnya dr. Icha masih menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai reaksi di media sosial maupun di tengah masyarakat, terutama terkait pentingnya perlindungan terhadap tenaga kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan kepada pasien.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut