get app
inews
Aa Text
Read Next : LPG 12 Kg Sempat Langka di Kupang, Pertamina Ungkap Pemicu dan Langkah Antisipasi

Polemik HP Hilang, Kepala Sekolah Bantah Ada Tuduhan dan Perundungan

Kamis, 12 Februari 2026 | 21:01 WIB
header img
Kepala SD Negeri Oehendak Maulafa Kupang, datangi rumah korban penuduhan, Kamis (12/02/2026). Foto:iNewsTTU.id/Eman.

KUPANG,iNewsTTU.id-- Kepala SD Negeri Oehendak, Kelurahan Maulafa, Kota Kupang, Petrus Tukan, menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada murid kelas III berinisial YA (9) dan keluarganya, usai polemik dugaan pencurian handphone (HP) milik satpam sekolah.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Petrus Tukan di hadapan keluarga YA pada Rabu, 11 Februari 2026.

“Saya datang untuk meminta maaf. Ini menjadi pelajaran bagi kami,” ujar Petrus Tukan.

Kasus ini sebelumnya mencuat setelah YA dituduh mencuri HP milik satpam sekolah. Namun belakangan diketahui bahwa HP tersebut ternyata dicuri oleh seorang siswa SMP Negeri 13 Kupang.

Akibat tudingan tersebut, YA mengalami trauma dan hingga kini enggan kembali bersekolah. Padahal, saat ini SD Negeri Oehendak tengah melaksanakan ujian.

Ibu YA, Gaudensia, mengaku sangat terpukul atas kejadian itu. Ia merasa mendapat perlakuan yang tidak pantas ketika persoalan tersebut mencuat di lingkungan sekolah.

“Saya butuh waktu untuk pemulihan. Sejak kejadian itu saya terus memikirkan. Selama ini saya ajarkan anak-anak untuk tidak mencuri. Walaupun kami orang miskin, kami punya harga diri,” ujar Gaudensia yang sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur.

Tak hanya YA yang terdampak, Gaudensia juga mengaku kondisi psikologisnya terganggu dan dalam beberapa hari terakhir tidak dapat beraktivitas seperti biasa.

Dalam klarifikasinya melalui pesan WhatsApp, Petrus Tukan membantah adanya tuduhan pencurian secara langsung dari pihak sekolah.

“Selamat malam pak maaf saya lupa karena tadi saya langsung dipanggil pak kabid, pulang saya layani pak kapolsek lalu langsung ketemu orang tua bersangkutan jadi lupa. Kalau menuduh mencuri itu bahasa mamanya. Yang ada adalah anak mengambil HP di atas meja lalu simpan di laci meja tanpa beritahu penjaga sekolah sampai hilang itu (ini diakui sendiri oleh anak). Kalau anak trauma itu karena mamanya yang siksa sendiri di rumah (diceritakan sendiri oleh mamanya) tidak ada perundungan di sekolah baik dari guru maupun siswa,” tulis Petrus dalam pesannya.

Ia juga menyatakan tidak ada tindakan perundungan di lingkungan sekolah, baik oleh guru maupun siswa, terhadap YA.

Namun, peristiwa tersebut berdampak besar bagi YA. Selain trauma karena dituduh mencuri, bocah 9 tahun itu juga disebut sempat dipukul oleh orang tuanya setelah mendapat informasi dari pihak sekolah mengenai dugaan pencurian.

Kini, keluarga berharap ada pemulihan psikologis bagi YA agar bisa kembali bersekolah dan mengikuti ujian tanpa rasa takut.

Kasus ini menjadi perhatian publik dan diharapkan menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama dalam menangani persoalan yang melibatkan anak di lingkungan pendidikan, agar tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perlindungan terhadap anak.

Editor : Sefnat Besie

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut