Menilik Ritual Klejang, Tradisi yang Menjaga Identitas Suku Tukan di Flores Timur

Marten Liwu
Prosesi adat Klejang masyarakat adat Suku Tukan di Desa Pululera, Flores Timur, NTT (Foto: iNewsTTU.id/Marten Liwu).

Hewan-hewan itu bukan sekadar bagian dari perayaan. Bagi masyarakat, pengorbanan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan leluhur sekaligus ungkapan syukur atas tanah yang memberi kehidupan.

"Perayaan dilakukan secara serempak di 24 kebun dan tidak sedikit hewan kurban yang disembelih. Saya pikir itu hewan kurban yang kita gunakan sebagai wujud syukur kepada bumi yang telah memberikan kesuburan dan kemakmuran dan tentunya itu akan membawa kesehatan bagi masyarakat," ujar Paulus Sony.

Di balik banyaknya hewan kurban dan ramainya ritual, ada sesuatu yang oleh masyarakat tidak mudah dihitung dengan ukuran ekonomi.

"Nilai itu tidak bisa kita sebut dalam bentuk nilai ekonomis, tapi ada nilai lain yang lebih tinggi yang menjadi ciri khas kita sebagai masyarakat adat di Lamaholot ini yang kemudian kita wujudkan dalam bentuk syukur hari ini," sambungnya.

Nilai itu terlihat dalam salah satu bagian penting dari ritual: pendirian Mahe'/Nuba.

Batu yang ditanam oleh Tuan Tanah atau Tana Puken itu bukan sekadar penanda sebuah tempat. Ia menjadi simbol jati diri, identitas sosial, spiritualitas dan ikatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika Nuba Nara didirikan, para sesepuh menderaskan ikrar suci atau koda.

Bagi masyarakat Suku Tukan, penghormatan kepada Nuba Nara berarti menjaga kesetiaan terhadap janji, nilai moral dan hukum adat yang diwariskan leluhur.

Editor : Sefnat Besie

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network