Flores Timur, iNewsTTU.id-Bagi masyarakat Suku Tukan di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, NTT, kebun bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Di hamparan tanah itu, mereka menyimpan ingatan tentang leluhur, menjalankan janji adat, dan merawat hubungan dengan alam.
Karena itu, ketika musim panen tiba, syukuran bukan hanya soal hasil yang telah dipetik dari tanah.
Ada ritual yang harus dijalankan.
Namanya Klejang.
Ritual ini menjadi puncak dari rangkaian ritus agraris masyarakat Suku Tukan. Sebelumnya, warga telah melewati tahapan adat sejak pembukaan lahan, penanaman hingga panen.
Klejang kemudian menjadi ruang untuk mengucapkan syukur sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, umur panjang dan rezeki.
Namun, ritual itu tidak dapat dilakukan kapan saja dan di tempat mana saja.
Kelejang memiliki hubungan erat dengan Man/Mang Witi. Secara harfiah, istilah tersebut berarti “Kebun Kambing”. Tetapi bagi masyarakat Suku Tukan, maknanya jauh lebih besar, yakni sebuah hamparan kebun yang menjadi pusat pelaksanaan ritual adat dan ritus agraris komunitas.
Kepala Desa Pululera, Paulus Sony Sang Tukan, mengatakan kegiatan tersebut hanya dapat dilaksanakan pada waktu tertentu.
"Ini perayaan syukuran terbesar yang kami sebut Klejang, untuk satu kegiatan adat di kebun besar yang kami sebut Mang Witi. Tapi pada dasarnya ini juga nilai yang paling besar yang berkaitan dengan bagaimana identitas masyarakat kita sebagai masyarakat adat itu yang harus bisa terus terjaga dan terawat," jelas Paulus Sony kepada iNews.id di lokasi kegiatan, Rabu (7/10/2026)
Tahun ini, Kelejang berlangsung serempak di 24 kebun milik warga.
Satu lokasi menjadi pusat ritual. Di tempat itu, kambing menjadi hewan kurban. Sementara di kebun-kebun lainnya, warga menyembelih babi.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
