Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan Pilkada tidak cukup diukur dari tingginya tingkat partisipasi pemilih ataupun minimnya sengketa hasil pemilu.
Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana Pilkada mampu memperkuat kepercayaan publik, memperluas partisipasi masyarakat, serta melahirkan pemimpin yang memiliki legitimasi secara hukum maupun moral.
Petrus juga menyoroti tantangan demokrasi di era digital. Ia menilai perkembangan teknologi telah membuka ruang partisipasi yang lebih luas, namun di sisi lain juga mempercepat penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.
Selain itu, praktik politik transaksional masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Menurutnya, ketika pilihan politik dipengaruhi kepentingan sesaat, demokrasi kehilangan substansinya sebagai sarana memilih pemimpin berdasarkan gagasan, integritas, dan kapasitas.
Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Cendana Wangi Kefamenanu, Randy Valentino Neonbeni, memberikan apresiasi atas inisiatif KPU TTU menerbitkan buku tersebut.
Menurut Randy, buku itu akan menjadi dokumentasi penting perjalanan demokrasi di Kabupaten TTU sekaligus referensi bagi berbagai pihak dalam memperkuat kualitas demokrasi pada masa mendatang.
"Saya sangat mengapresiasi peluncuran buku Pilkada Serentak 2024 dan Masa Depan Demokrasi di Kabupaten TTU. Buku ini akan meninggalkan catatan sejarah yang sangat penting untuk penataan demokrasi yang lebih baik ke depan di Kabupaten TTU," ujar Randy.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
