KUPANG, iNewsTTU.id – Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Gasoline di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 5 persen dari rata-rata konsumsi normal selama masa Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) 2026. Lonjakan ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat pada arus mudik dan balik di wilayah Bumi Flobamora.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Iwan Yudha Wibawa, menjelaskan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada BBM Gasoline, tetapi juga pada sektor transportasi udara dan kebutuhan rumah tangga.
Konsumsi Avtur tercatat naik 8 persen, sementara sektor domestik seperti LPG melonjak tajam hingga 27 persen dan Minyak Tanah (Kerosene) naik 16 persen dibanding kondisi normal.
"Kami mencatat adanya kenaikan konsumsi energi yang cukup dinamis di NTT selama masa Satgas. Gasoline naik 5 persen dan Avtur 8 persen, mencerminkan tingginya pergerakan masyarakat baik melalui jalur darat maupun udara," ujar Iwan Yudha dalam evaluasi penutupan Satgas RAFI, pekan lalu.
Sebaliknya, untuk konsumsi Gasoil (Diesel) justru mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya aktivitas industri dan operasional kendaraan berat selama masa libur panjang Idul Fitri.
Ketahanan Stok dan Infrastruktur Siaga
Meski terjadi lonjakan penggunaan, Pertamina memastikan distribusi energi di NTT tetap terkendali.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa stok BBM, LPG, dan Avtur selama masa Satgas terjaga dalam kondisi aman dengan ketahanan stok antara 8 hingga 15 hari.
"Selama masa Satgas, kami menyiagakan infrastruktur distribusi di NTT secara penuh, termasuk 9 Terminal BBM, 142 SPBU, dan 6 Aviation Fuel Terminal (AFT). Operasional dikendalikan melalui sistem monitoring 24 jam untuk memastikan tidak ada kekosongan di lapangan," jelas Ahad.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
