Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pemda SBD Beber Data Kerusakan Rumah Akibat Gempa Sumba Barat Daya
Advertisement . Scroll to see content

Menilik Ritual Klejang, Tradisi yang Menjaga Identitas Suku Tukan di Flores Timur

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:02 WIB
  • author Marten Liwu
Menilik Ritual Klejang, Tradisi yang Menjaga Identitas Suku Tukan di Flores Timur
Prosesi adat Klejang masyarakat adat Suku Tukan di Desa Pululera, Flores Timur, NTT (Foto: iNewsTTU.id/Marten Liwu).

Flores Timur, iNewsTTU.id-Bagi masyarakat Suku Tukan di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, NTT, kebun bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Di hamparan tanah itu, mereka menyimpan ingatan tentang leluhur, menjalankan janji adat, dan merawat hubungan dengan alam.

Karena itu, ketika musim panen tiba, syukuran bukan hanya soal hasil yang telah dipetik dari tanah.

Ada ritual yang harus dijalankan.

Namanya Klejang.

Ritual ini menjadi puncak dari rangkaian ritus agraris masyarakat Suku Tukan. Sebelumnya, warga telah melewati tahapan adat sejak pembukaan lahan, penanaman hingga panen.

Klejang kemudian menjadi ruang untuk mengucapkan syukur sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, umur panjang dan rezeki.

Namun, ritual itu tidak dapat dilakukan kapan saja dan di tempat mana saja.

Kelejang memiliki hubungan erat dengan Man/Mang Witi. Secara harfiah, istilah tersebut berarti “Kebun Kambing”. Tetapi bagi masyarakat Suku Tukan, maknanya jauh lebih besar, yakni sebuah hamparan kebun yang menjadi pusat pelaksanaan ritual adat dan ritus agraris komunitas.

Kepala Desa Pululera, Paulus Sony Sang Tukan, mengatakan kegiatan tersebut hanya dapat dilaksanakan pada waktu tertentu.

"Ini perayaan syukuran terbesar yang kami sebut Klejang, untuk satu kegiatan adat di kebun besar yang kami sebut Mang Witi. Tapi pada dasarnya ini juga nilai yang paling besar yang berkaitan dengan bagaimana identitas masyarakat kita sebagai masyarakat adat itu yang harus bisa terus terjaga dan terawat," jelas Paulus Sony kepada iNews.id di lokasi kegiatan, Rabu (7/10/2026)

Tahun ini, Kelejang berlangsung serempak di 24 kebun milik warga.

Satu lokasi menjadi pusat ritual. Di tempat itu, kambing menjadi hewan kurban. Sementara di kebun-kebun lainnya, warga menyembelih babi.

Hewan-hewan itu bukan sekadar bagian dari perayaan. Bagi masyarakat, pengorbanan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan leluhur sekaligus ungkapan syukur atas tanah yang memberi kehidupan.

"Perayaan dilakukan secara serempak di 24 kebun dan tidak sedikit hewan kurban yang disembelih. Saya pikir itu hewan kurban yang kita gunakan sebagai wujud syukur kepada bumi yang telah memberikan kesuburan dan kemakmuran dan tentunya itu akan membawa kesehatan bagi masyarakat," ujar Paulus Sony.

Di balik banyaknya hewan kurban dan ramainya ritual, ada sesuatu yang oleh masyarakat tidak mudah dihitung dengan ukuran ekonomi.

"Nilai itu tidak bisa kita sebut dalam bentuk nilai ekonomis, tapi ada nilai lain yang lebih tinggi yang menjadi ciri khas kita sebagai masyarakat adat di Lamaholot ini yang kemudian kita wujudkan dalam bentuk syukur hari ini," sambungnya.

Nilai itu terlihat dalam salah satu bagian penting dari ritual: pendirian Mahe'/Nuba.

Batu yang ditanam oleh Tuan Tanah atau Tana Puken itu bukan sekadar penanda sebuah tempat. Ia menjadi simbol jati diri, identitas sosial, spiritualitas dan ikatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika Nuba Nara didirikan, para sesepuh menderaskan ikrar suci atau koda.

Bagi masyarakat Suku Tukan, penghormatan kepada Nuba Nara berarti menjaga kesetiaan terhadap janji, nilai moral dan hukum adat yang diwariskan leluhur.

Di titik inilah Klejang tidak berhenti sebagai pesta panen.

Ia menjadi cara masyarakat mengingat siapa mereka.

Dan ingatan itu tidak hanya disimpan dalam cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Ia dijalankan melalui tanah yang digarap, ritual yang diwariskan, batu yang ditanam dan ikrar yang terus diucapkan.

Pemerintah Desa Pululera turut mendukung pelaksanaan ritual tersebut. Bagi pemerintah desa, kegiatan adat juga berkaitan dengan pembinaan kemasyarakatan dan keberadaan kelembagaan adat.

"Kalau kita lihat dalam struktur program di desa itu ada bidang pembinaan kemasyarakatan termasuk di dalamnya. Juga yang berhubungan dengan kelembagaan adat, jadi ini sebenarnya juga bagian daripada tugas pemerintah desa. Selaku pemerintah desa ya kita wajib memberikan dukungan," kata Paulus Sony.

Bagi Sony, dukungan itu penting karena adat tidak hanya membutuhkan ruang untuk dilaksanakan, tetapi juga perlu dirawat dan didokumentasikan.

Adat, kata dia, adalah identitas dan jati diri masyarakat yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Kelejang memperlihatkan bahwa bagi masyarakat Suku Tukan, kebun tidak pernah hanya tentang apa yang tumbuh di atas tanah.

Di sana ada leluhur yang diingat, ada janji yang dijaga, ada hukum adat yang diwariskan dan ada identitas yang dipertaruhkan.

Sebab ketika sebuah masyarakat berhenti merawat ritualnya, yang hilang bukan hanya sebuah upacara.

Yang perlahan bisa ikut hilang adalah ingatan tentang siapa mereka.

Editor: Sefnat Besie

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut