Warga Adonara Masih Bermalam di Tenda Darurat, Trauma Gempa Flotim Magnitudo 4,7
LARANTUKA, iNewsTTU.id – Trauma mendalam masih menyelimuti warga di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, usai gempa bumi tektonik mengguncang wilayah tenggara Larantuka sejak Rabu (8/4/2026) malam hingga Kamis (9/4/2026) dini hari.
Warga di Desa Terong dan Desa Lamahala dilaporkan masih enggan kembali ke dalam rumah. Mereka memilih bertahan di luar ruangan dengan mendirikan tenda darurat di halaman rumah guna mengantisipasi adanya gempa susulan yang terus terjadi.
Dampak guncangan bermagnitudo 4,7 tersebut mengakibatkan kerusakan bangunan yang cukup masif. Data sementara mencatat sebanyak 146 rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari dinding retak hingga atap yang runtuh. Selain kerugian materiil, tercatat 20 warga mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat mencoba menyelamatkan diri.
Husen, salah satu warga terdampak, menceritakan detik-detik kepanikan saat gempa terjadi di tengah malam.
“Kami terbangun karena guncangan sangat kuat. Semua orang panik, lari keluar rumah tanpa sempat bawa apa-apa. Sementara ini kami bangun tenda dan bermalam di luar rumah karena takut gedung roboh,” ungkap Husen dengan nada cemas.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa gempa utama terjadi pada Rabu pukul 23.17 WIB. Episenter gempa terletak di darat, sekitar 24 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman sangat dangkal, yakni 5 kilometer.
"Karena pusat gempanya dangkal, guncangan terasa sangat kuat di permukaan. Hingga Kamis pagi, kami mencatat sedikitnya sudah terjadi 48 kali gempa susulan," jelas Arief.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan tenda-tenda darurat yang berjejer di halaman rumah warga. Fasilitas umum dan rumah tinggal di Kecamatan Adonara Timur menjadi wilayah terdampak cukup parah.
Saat ini, warga sangat membutuhkan bantuan darurat berupa tenda, selimut, dan bahan makanan, mengingat mereka masih bertahan di luar rumah dengan perlengkapan seadanya sambil menunggu pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait kondisi keamanan bangunan mereka.
Editor : Sefnat Besie