Sejarah Panjang di Balik 1 Januari: Mengapa Kita Merayakan Tahun Baru di Tanggal Ini?
JAKARTA, iNewsTTU.id– Setiap tanggal 1 Januari, miliaran orang di seluruh dunia bersuka cita merayakan pergantian tahun. Namun, tahukah Anda bahwa penetapan awal tahun pada tanggal tersebut bukanlah proses yang instan? Perjalanan menentukan "hari pertama" dalam setahun melibatkan sejarah ribuan tahun, mulai dari peradaban Mesopotamia hingga reformasi kepausan.
Berikut adalah kilas balik transformasi perayaan tahun baru dari masa ke masa:
Jejak Awal di Mesopotamia dan Mesir Kuno
Perayaan tahun baru tertua yang tercatat berasal dari tahun 2000 SM di Mesopotamia Kuno (sekarang Irak). Saat itu, perayaan bernama Akitu dirayakan selama 12 hari dimulai pada bulan baru pertama setelah ekuinoks musim semi di bulan Maret. Festival ini menjadi momen penting untuk penobatan atau penegasan kesetiaan kepada raja.
Berbeda dengan Mesopotamia, Mesir Kuno menandai tahun baru sekitar pertengahan Juli, saat bintang paling terang, Sirius, muncul di langit. Sementara di Tiongkok, selama 3.500 tahun, tahun baru dimulai pada bulan baru kedua setelah titik balik musim dingin (akhir Januari atau awal Februari) sebagai tanda dimulainya musim semi.
Peran Romawi dan Inovasi Julius Caesar
Pada masa awal Roma Kuno, kalender yang diciptakan Raja Romulus hanya terdiri dari 10 bulan (304 hari) dan dimulai pada bulan Maret. Barulah pada abad ke-7 SM, Raja Numa Pompilius menambahkan bulan Ianuarius (diambil dari nama Dewa Janus, dewa segala permulaan) dan Februarius.
Revolusi besar terjadi pada tahun 46 SM saat Julius Caesar menjadi diktator Roma. Atas saran astronom Sosigenes, Caesar menciptakan kalender berbasis matahari yang dikenal sebagai Kalender Julian. Pada tahun 45 SM, ia secara resmi menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun sipil di Roma.
Koreksi Paus Gregorius XIII dan Kalender Modern
Meski Kalender Julian menyebar luas seiring kekuasaan Romawi, sistem ini memiliki kelemahan dalam perhitungan tahun kabisat. Kesalahan akumulatif selama berabad-abad menyebabkan pergeseran musim dan kekacauan penentuan hari Paskah.
Untuk memperbaikinya, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender revisi pada tahun 1582, yang kita kenal sekarang sebagai Kalender Gregorian. Kalender ini tidak hanya memperbaiki sistem kabisat tetapi juga mengukuhkan kembali 1 Januari sebagai awal tahun baru.
Adopsi kalender ini tidak serentak di seluruh dunia:
-Italia, Prancis, dan Spanyol: Segera mengadopsi pada 1582.
-Britania Raya dan Amerika: Baru beralih pada tahun 1752 (sebelumnya merayakan tahun baru pada 25 Maret).
-Tiongkok: Mulai menggunakan kalender ini pada 1912, meski tetap mempertahankan perayaan Imlek berdasarkan kalender lunar.
Negara yang Memiliki Waktu Sendiri
Menariknya, hingga saat ini tidak semua negara sepenuhnya bergantung pada kalender Gregorian untuk menentukan tahun baru. Ethiopia, misalnya, tetap menggunakan kalender sendiri dan merayakan tahun baru yang disebut Enkutatash pada bulan September.
Kini, berkat inovasi lintas peradaban—mulai dari para astronom kuno di Mesopotamia hingga keputusan Kepausan di abad ke-16—masyarakat modern memiliki standar global untuk memulai lembaran baru setiap tanggal 1 Januari.
Editor : Sefnat Besie