Akibatnya, partikulat asap yang berada di dekat permukaan cenderung bertahan lebih lama di lapisan bawah atmosfer.
BMKG menjelaskan, kondisi inversi tersebut bukan merupakan sumber atau penyebab munculnya asap. Namun, kondisi atmosfer yang stabil dapat membuat asap lebih sulit terdispersi sehingga udara kabur bertahan lebih lama.
Diduga Dipengaruhi Asap Karhutla
Dengan melihat kondisi hotspot, citra satelit, arah angin, serta kondisi atmosfer, udara kabur yang teramati di Kupang dan wilayah sekitarnya kemungkinan dipengaruhi oleh sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Meski demikian, sumber pasti asap tersebut masih belum dapat dipastikan.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kualitas udara dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG maupun Stamet El Tari.
BMKG juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan yang berpotensi memperburuk kondisi udara.
Jika mengalami keluhan seperti sesak napas atau batuk yang berlangsung terus-menerus, masyarakat diimbau segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
