Flores Timur, iNewsTTU.id-Personel Brimob Polda Nusa Tenggara Timur masih berjaga di dua desa yang terlibat bentrok di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Selasa, 12 Mei 2026.
Aparat menyisir Desa Narasaosina dan Desa Waiburak untuk mencegah bentrokan susulan setelah konflik yang memicu rumah warga terbakar dan menyebabkan sejumlah warga luka tembak.
Patroli dilakukan di tengah situasi warga yang masih diliputi ketakutan pascabentrokan yang pecah beberapa hari terakhir. Aparat bersenjata lengkap terlihat menyusuri wilayah perkampungan dan titik-titik yang sebelumnya menjadi lokasi konsentrasi massa.
Di sela patroli, Wakil Komandan Kompi (Wadanki) 1 Batalyon B Pelopor Polda NTT, Simon Hedo, menyoroti dampak konflik terhadap anak-anak di kedua desa. Dalam pertemuan bersama Kepala Desa Narasaosina dan Kepala Desa Waiburak pada Senin malam, 11 Mei 2026, Simon menyebut konflik berkepanjangan dapat mengancam masa depan pendidikan generasi muda.
“Anak-anak ini memiliki masa depan. Kami sangat prihatin, apalagi ada program dari Bapak Presiden untuk mengutamakan pendidikan anak bangsa. Lalu, ketika orang tua mereka terlibat konflik, bagaimana masa depan anak-anak? Hal ini harus menjadi perhatian bersama,” kata Simon Hedo.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebelumnya juga mempertemukan kedua kepala desa yang bertikai. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, meminta masing-masing pihak menahan diri dan menghentikan konflik yang berulang.
Menurut Ignasius, perang antarkampung hanya menyisakan kerusakan dan dendam berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Masing-masing harus menahan diri. Jangan lagi ada konflik, titik. Perang tidak menghasilkan pemenang, yang ada hanya kehancuran dan dendam darah,” tegas Ignasius Boli.
Bentrok antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak kembali pecah pada Sabtu, 9 Mei 2026. Sedikitnya sembilan rumah terbakar dalam insiden itu. Enam warga lainnya mengalami luka akibat tembakan peluru senapan rakitan.
Korban luka dievakuasi ke RSUD Larantuka untuk mendapatkan perawatan medis. Konflik tersebut diduga dipicu sengketa tanah adat yang belum terselesaikan, meski mediasi sebelumnya telah dilakukan pemerintah daerah pada Februari lalu.
Konflik serupa juga sempat terjadi pada Maret 2026. Saat itu lima warga mengalami luka tembak, sementara enam rumah rusak dan terbakar akibat bentrokan.
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengatakan aparat keamanan masih terus melakukan pengamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif. Polisi juga meminta masyarakat tidak mudah terpancing isu yang belum terverifikasi.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu maupun informasi yang belum tentu benar, serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi,“
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terpengaruh isu atau informasi yang belum terverifikasi, serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi.
“Percayakan proses penanganan kepada aparat keamanan, karena keselamatan, keamanan, dan kedamaian masyarakat adalah prioritas utama kami,” ujar Octorio Putra.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
