KUPANG, iNewsTTU.id – Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta melalui BMKG merilis analisis terbaru terkait munculnya Bibit Siklon Tropis 98P yang terpantau di daratan Australia bagian Utara. Meski berada di luar wilayah Indonesia, sistem ini memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan analisis Minggu (1/2/2026) pukul 07.00 WIB, pusat sirkulasi Bibit Siklon 98P berada di koordinat 16.7°LS 130.7°BT dengan kecepatan angin maksimum 15 knot (27 km/jam) dan tekanan udara minimum 1008 hPa.
Dampak Terhadap Wilayah NTT
BMKG memberikan peringatan dini mengenai dampak tidak langsung yang diprediksi terjadi dalam 24 jam ke depan atau hingga tanggal 2 Februari 2026 pukul 07.00 WIB. Wilayah NTT, Maluku Barat Daya, dan Kepulauan Tanimbar diminta waspada terhadap potensi, Hujan Sedang hingga Lebat, Angin Kencang, dan Gelombang Tinggi di Perairan.
"Potensi bibit 98P menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan masih dalam kategori peluang rendah. Namun, awan konvektif yang signifikan terpantau di wilayah NTT bagian Selatan," tulis laporan resmi yang ditandatangani Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus, Miming Saepudin.
Kondisi Perairan: Waspada Gelombang Tinggi
Selain cuaca ekstrem di darat, sektor perairan juga terdampak. BMKG membagi peringatan gelombang dalam dua kategori:
Kategori Sedang (1.25 - 2.5 meter): Berpotensi terjadi di Perairan Selatan NTT, Laut Sawu, Perairan Kepulauan Sermata hingga Leti, serta Laut Arafuru bagian Tengah dan Timur.
Kategori Tinggi (2.5 - 4.0 meter): Berpotensi terjadi di Laut Arafuru bagian Barat.
Intensitas Diprediksi Menurun
Kabar baiknya, BMKG memprediksi dalam 24 jam ke depan intensitas Bibit Siklon 98P cenderung menurun seiring pergerakannya yang perlahan ke arah Timur. Dalam 48 jam ke depan, sirkulasi sistem ini diperkirakan akan semakin melebar dan menghilang.
Informasi ini menjadi analisis terakhir dari sistem 98P, namun masyarakat NTT dihimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, terutama bagi warga yang beraktivitas di laut maupun di wilayah rawan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Masyarakat disarankan untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem di wilayah masing-masing.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
