Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Siapkan Strategi Hadapi Kemarau, Ini Langkah Perumda Tirta Cendana Atasi Ketersediaan Air
Advertisement . Scroll to see content

Udara Kabur Selimuti Kupang dan Kefamenanu, BMKG Ungkap Penyebabnya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:34 WIB
  • author *Sefnat Besie
Udara Kabur Selimuti Kupang dan Kefamenanu, BMKG Ungkap Penyebabnya
Udara kabur atau haze dalam beberapa hari terakhir terlihat menyelimuti sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kota Kupang dan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. (Foto: istimewa).

KUPANG, iNewsTTU.id – Udara kabur atau haze dalam beberapa hari terakhir terlihat menyelimuti sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kota Kupang dan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Kondisi tersebut membuat jarak pandang dan kejernihan udara tampak menurun. Fenomena ini diduga berkaitan dengan sebaran partikulat asap yang terbawa angin dari sejumlah wilayah.

Berdasarkan Peta Sebaran Titik Panas (hotspot) BMKG pada 7 Oktober 2026, terdeteksi sejumlah titik panas di wilayah NTT dan sekitarnya.

Namun, BMKG mengingatkan bahwa keberadaan titik panas tidak serta-merta menjadi bukti terjadinya kebakaran. Hotspot merupakan indikasi lokasi dengan suhu permukaan yang relatif tinggi yang terdeteksi oleh satelit dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan.

Selain itu, berdasarkan citra satelit Himawari-9, terlihat adanya sebaran partikulat asap hingga wilayah Kota Kupang. Pola pergerakan angin dominan dari arah timur-tenggara menuju barat laut-utara.

Kondisi tersebut memungkinkan partikulat asap dari wilayah tertentu terbawa angin dan mencapai wilayah lainnya.

Ada Lapisan Atmosfer yang Menahan Asap

Bertahannya udara kabur juga dipengaruhi kondisi atmosfer.

Data sounding udara atas dari Stasiun Meteorologi (Stamet) El Tari pada 8 Oktober 2026 menunjukkan adanya dua lapisan stabil atau inversi subsidensi pada ketinggian sekitar 2,8 kilometer dan 3,9 kilometer.

Lapisan inversi tersebut bekerja seperti "tutup" di atmosfer yang menghambat udara dari lapisan bawah untuk bergerak naik secara vertikal.

Akibatnya, partikulat asap yang berada di dekat permukaan cenderung bertahan lebih lama di lapisan bawah atmosfer.

BMKG menjelaskan, kondisi inversi tersebut bukan merupakan sumber atau penyebab munculnya asap. Namun, kondisi atmosfer yang stabil dapat membuat asap lebih sulit terdispersi sehingga udara kabur bertahan lebih lama.

Diduga Dipengaruhi Asap Karhutla

Dengan melihat kondisi hotspot, citra satelit, arah angin, serta kondisi atmosfer, udara kabur yang teramati di Kupang dan wilayah sekitarnya kemungkinan dipengaruhi oleh sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Meski demikian, sumber pasti asap tersebut masih belum dapat dipastikan.

Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kualitas udara dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG maupun Stamet El Tari.

BMKG juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker.

Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan yang berpotensi memperburuk kondisi udara.

Jika mengalami keluhan seperti sesak napas atau batuk yang berlangsung terus-menerus, masyarakat diimbau segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Editor: Sefnat Besie

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut