Pemerhati Soroti Minimnya Muatan Sejarah Lokal dalam Kurikulum Sekolah
Flores Timur, iNewsTTU.id- Generasi milenial, generasi Z (Gen Z) dan generasi Alpha di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur dinilai semakin jauh dari sejarah dan budaya daerahnya sendiri. Kondisi ini menjadi perhatian pemerhati budaya Darius Don Boruk yang menilai sistem pendidikan saat ini belum cukup memberi ruang bagi pengetahuan lokal.
Menurut Don Boruk, setiap kampung (lewo) di wilayah Wulanggitang memiliki sejarah, tokoh, dan warisan budaya yang penting untuk diketahui generasi penerus. Namun, pengetahuan tersebut perlahan mulai terpinggirkan akibat kuatnya arus pendidikan yang lebih banyak mengenalkan sejarah dari luar daerah.
"Kita disuruh belajar sejarah daerah luar, kita disuruh belajar sejarah pahlawan dari luar, padahal kita punya sejarah dan pahlawan lokal yang mungkin hingga saat ini generasi belum tau. Padahal masing-masing Lewo atau (desa kini) yang ada di kecamatan Wulanggitang memiliki pahlawan," kata Don Boruk dalam seminar budaya yang merupakan rangkaian dari kegiatan hari ulang tahun Kecamatan Wulanggitang di Boru, Sabtu (18/7/2026)
Ia menilai, pembelajaran sejarah dan budaya lokal seharusnya menjadi bagian penting dalam pendidikan karena tidak hanya mengenalkan masa lalu, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.
"Kita dipaksakan untuk belajar pahlawan dari Jawa dan lainnya. Padahal dahulu mereka hanya berjuang di tanahnya sendiri. Mereka tidak berjuang di tanah kita. Kita punya pahlawan sendri," tuturnya.
Don Boruk menjelaskan, Wulanggitang memiliki kekayaan sejarah yang berakar dari komunitas adat. Kecamatan yang lahir pada 20 Juli 1963 itu dibangun atas kekuatan komunitas budaya mulai dari Seri Nuho hingga Ojan Detun dalam konteks Wulanggitang lama.
Ia menyebut terdapat empat komunitas budaya yang menjadi bagian dari sejarah Wulanggitang, yakni komunitas Lewoingu, Lewotobi, Muhang, dan Krowin.
Komunitas Lewoingu kini telah berdiri sebagai Kecamatan Titehena, sementara Lewotobi menjadi Kecamatan Ile Bura. Adapun komunitas Muhang terdiri dari Pagong, Kobasoma, Plue, Sukutukan, dan Boru. Sedangkan komunitas Krowin meliputi Darawoer, Gengar, dan Hewat Kokang.
"Itu artinya, pada saat itu komunitas adat yakin bahwa membangun sebuah wilayah yang kuat harus dari kekuatan kekuatan Lewo (kampung)," kata Don Boruk.
Menurutnya, budaya menjadi dasar yang menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, alam, leluhur, dan sesama. Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.
"Akar budaya berfungsi sebagai kompas moral dan identitas peradaban," ujar pria yang terlibat membentuk organisasi Asosiasi Petani Flores.
Ia mengibaratkan budaya seperti akar sebuah pohon yang membuatnya tetap berdiri ketika menghadapi perubahan. Tanpa akar budaya yang kuat, masyarakat dapat kehilangan identitas dan kebanggaannya terhadap daerah sendiri.
"Jadi setiap Lewo itu punya nuba dan kekuatan masing-masing. Kita punya kekayaan budaya," sambungnya.
Don Boruk juga menyoroti perubahan pola pendidikan yang menurutnya lebih menekankan ilmu pengetahuan dan teknologi dibandingkan pembentukan budi pekerti.
Kepala Desa Boru Kedang itu mendorong agar pelajaran sejarah dan budaya lokal masuk dalam muatan pendidikan sekolah. Menurutnya, langkah itu penting agar generasi muda mengenal asal-usul, menghargai peninggalan leluhur, serta memiliki karakter yang kuat.
"Sejarah dan budaya lokal adalah identitas kita. Dengan belajar dari lingkungan sekitar, siswa tahu dari mana asal mereka, jati diri, mengetahui hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dengan alam, dengan leluhur menghargai peninggalan leluhur, dan bangga dengan daerahnya," katanya.
Ia menambahkan, pendidikan budaya dapat membentuk sikap sopan santun, gotong royong, dan kepedulian sosial sehingga siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki nilai moral.
Editor : Sefnat Besie