JAKARTA, iNewsTTU.id -- Sering mengalami tangan kesemutan, kebas, atau terasa seperti ditusuk-tusuk saat malam hari? Jangan langsung menganggapnya sebagai akibat salah posisi tidur. Jika keluhan tersebut muncul berulang hingga membuat Anda terbangun dari tidur, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saraf.
Secara umum, kesemutan pada tangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dua penyebab utamanya yang paling sering ditemui adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS) atau gangguan saraf di pergelangan tangan, serta gangguan saraf yang berasal dari leher atau yang dikenal sebagai radikulopati servikal.
Meski sama-sama menimbulkan sensasi kebas dan kesemutan, kedua kondisi ini terjadi pada lokasi saraf yang berbeda. Oleh karena itu, pola dan lokasi keluhan menjadi petunjuk penting untuk melacak sumber masalahnya.
Kenali Perbedaan CTS dan Gangguan Saraf Leher
Dokter Spesialis Neurologi Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Puspasari, Sp.N, FIOM, FEEG, FPSG, F.Neurosomnologi, FEMG, KHS, menjelaskan bahwa CTS umumnya menyerang area saraf di pergelangan tangan.
"Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur," jelas dr. Puspasari dalam keterangan resminya, Selasa (6/10/2026).
Pada tahap lanjut, CTS dapat membuat tangan terasa lemah, mudah menjatuhkan benda, hingga kesulitan melakukan gerakan yang membutuhkan ketelitian. Sebagian penderita juga merasa keluhannya sedikit mereda setelah mengibaskan atau menggoyangkan tangan.
Di sisi lain, kesemutan juga bisa berpangkal dari area leher, yakni ketika saraf yang keluar dari tulang belakang mengalami iritasi atau tekanan (radikulopati servikal). Kondisi ini bisa dipicu oleh perubahan pada tulang belakang, penyempitan jalur saraf, maupun gangguan pada bantalan tulang (diskus).
"Jika sumber gangguan berasal dari leher, keluhan dapat berupa nyeri yang berawal dari leher kemudian menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari tangan. Kesemutan atau kebas juga dapat muncul pada area tertentu sesuai dengan saraf yang mengalami gangguan," tambah dr. Puspasari.
Menariknya, gangguan saraf dari leher tidak selalu diawali dengan nyeri leher yang berat. Pada sebagian orang, gejala yang paling mendominasi justru rasa kesemutan di tangan disertai kelemahan pada kelompok otot tertentu.
Pentingnya Pemeriksaan Medis: EMG/NCS dan MRI
Untuk memastikan penyebab pasti dari tangan kesemutan, dokter perlu mengevaluasi pola keluhan, kekuatan otot, refleks, serta area lengan yang terdampak. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti Electromyography/Nerve Conduction Study (EMG/NCS).
NCS (Nerve Conduction Study): Berfungsi menilai bagaimana sinyal listrik berjalan melalui jalur saraf.
EMG (Electromyography): Berfungsi mengevaluasi aktivitas listrik pada otot.
Lantas, mengapa pemeriksaan MRI kadang masih dibutuhkan jika sudah menjalani EMG/NCS? Keduanya memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. MRI berfungsi memotret struktur tubuh, sementara EMG/NCS menilai fungsi saraf dan otot secara nyata.
"Pada kondisi tertentu, pemeriksaan klinis, MRI, dan EMG/NCS dapat saling melengkapi. Tujuannya bukan hanya menemukan kelainan, tetapi memahami apakah kelainan tersebut sesuai dengan keluhan pasien," ujar dr. Puspasari.
Jangan Diabaikan
Kesemutan sesekali akibat tangan tertindih saat tidur memang wajar dan cepat membaik setelah posisi diubah. Namun, jika keluhan tersebut sering berulang, membuat terbangun di malam hari, disertai nyeri menjalar atau kelemahan otot, maka sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan bahwa setiap keluhan sekecil apa pun memiliki karakteristik dan penanganan yang berbeda bagi setiap pasien.
"Melalui Neuroscience Center, kami mengintegrasikan kompetensi dokter, pemeriksaan diagnostik, serta fasilitas penunjang untuk membantu mendapatkan gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh," tutup dr. Margareth.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
